07 Agustus 2017•Update: 08 Agustus 2017
Kaamil Ahmed
YERUSALEM
Menteri Komunikasi Ayoob Kara mengatakan bahwa Israel akan menutup kantor Aljazeera di Yerusalem, stasiun televisi yang berpusat di Qatar. Kara telah meminta Kantor Pers Pemerintah untuk mencabut izin wartawan Aljazeera.
Langkah ini diambil setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta stasiun tersebut untuk ditutup, dan menuding Al Jazeera memperburuk ketegangan di sekitar masjid Al-Aqsa, situs suci Yerusalem di mana orang-orang Palestina melaksanakan aksi protes selama hampir 2 minggu, melawan kebijakan Israel pasca baku tembak bulan lalu.
Aljazeera akan mengambil langkah hukum yang diperlukan. namun Netanyahu mengatakan ia akan mengupayakan perubahan undang-undang demi pemberlakuan larangan tersebut.
Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel akan bergabung dengan negara-negara Teluk. “Negara-negara ini meyakini bahwa jaringan Aljazeera adalah alat propaganda bagi Daesh, Hizbullah, dan Iran; dan kami juga menyetujui hal tersebut,” tegasnya.
Kepala Biro Aljazeera Yerusalem Walid Omary mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sejauh ini belum ada pemberitahuan resmi dari pihak Israel.
Pekan lalu, Omary, dalam tulisannya untuk surat Kabar Israel Ha’aretz, menyebutkan bahwa keputusan tersebut adalah kemunduran besar.
“Lalu, apa bedanya antara Israel, demokrasi, dan kediktatoran?” tulisnya.