Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 April 2019•Update: 23 April 2019
Recep Sakar
MELBOURNE
Korban tewas dari berbagai ledakan yang menargetkan gereja dan hotel di Sri Lanka meningkat menjadi 290 orang, lansir media lokal pada Senin pagi.
Menurut Australian Broadcasting Corporation, total 290 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka setelah sejumlah ledakan bom terjadi pada Minggu Paskah.
Serangan bom itu menargetkan delapan lokasi berbeda - termasuk gereja tempat umat Kristiani merayakan Paskah - dan hotel bintang 5 di ibu kota komersial Kolombo.
Pada pagi hari, gereja-gereja di kota Kochchikade, Negombo dan Batticaloa, serta hotel Kingsbury, Cinnamon Grand dan Shangri La di Colombo menjadi sasaran ledakan.
Setelah ledakan, pasukan polisi khusus dikerahkan ke Bandara Internasional Bandaranaike di Kolombo untuk menggagalkan setiap kemungkinan serangan di sana.
Polisi Sri Lanka mengatakan sebuah van yang diduga digunakan untuk mengangkut para tersangka dan bahan peledak ke Kolombo ditemukan dan sopirnya ditangkap di kota Wellawatte pada Minggu malam, menurut harian lokal Daily Mirror.
Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena meminta warganya untuk tetap tenang dan mengatakan bahwa dia telah menginstruksikan pihak berwenang untuk segera bertindak.
Sementara itu, Dinendra Ruwan Wijewardene, menteri pertahanan Sri Lanka, mengumumkan pemberlakuan jam malam di penjuru negeri selama 12 jam, efektif mulai pukul 18.00 waktu setempat.
Dia menggambarkan serangkaian ledakan bom tersebut sebagai serangan teroris yang diorganisir oleh para ekstremis.
Menurut Daily News, situs media sosial dan aplikasi perpesanan diblokir di seluruh negeri untuk mencegah beredarnya informasi yang tidak benar dan rumor.
Harian itu mengatakan Menteri Pendidikan Akila Viraj Kariyawasam mengumumkan bahwa sekolah akan tetap ditutup selama dua hari ke depan.
- Warga asing di antara korban
Menteri luar negeri Sri Lanka mengumumkan bahwa setidaknya 27 warga negara asing dipastikan tewas dalam serangan itu, sementara lima lainnya dilaporkan hilang.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Televisi lokal Derana melaporkan bahwa sejumlah tersangka telah ditangkap setelah pemboman.
Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe telah mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Nasional di rumahnya.
“Saya mengutuk keras serangan pengecut terhadap warga kami hari ini. Saya menimbau semua warga Sri Lanka untuk tetap bersatu dan kuat selama masa tragis ini,” ujar Wickremesinghe melalui Twitter.
Pasukan keamanan Sri Lanka sebelumnya berperang melawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), sebuah organisasi gerilya yang berjuang untuk memerdekakan negara Tamil, yang berakhir pada Mei 2009.
Sekitar 1,5 juta umat Kristiani, mayoritas dari mereka adalah Katolik, diperkirakan tinggal di negara itu, membentuk sekitar 7 persen dari total populasi.