Afra Aksoy
11 April 2019•Update: 11 April 2019
Afra Aksoy
BAGHDAD
Setidaknya lima orang tewas dalam serangan di ibukota Irak dan Provinsi Kirkuk, kata pejabat keamanan, Rabu.
Di Distrik Sadr City di Baghdad, para penyerang yang belum diketahui identitasnya melepaskan tembakan dari sebuah mobil dan menewaskan tiga orang, kata Kapten Polisi Baghdad Ahmad Khalaf kepada Anadolu Agency.
Sementara itu, serangan bom di Kota Mullah Abdullah di utara Provinsi Kirkuk menewaskan dua orang dan sejumlah lainnya cedera, kata Kapten Polisi Kirkuk Hamid al-Obeidi kepada Anadolu Agency.
Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kelompok-kelompok teroris berkembang pesat di Irak karena kekacauan, korupsi dan kebijakan sektarian.
Kelompok teroris Daesh dengan cepat menyebar di daerah-daerah di mana Muslim Sunni merupakan mayoritas penduduk.
Pada 10 Juni 2014, Daesh merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, tanpa memperoleh perlawanan apa pun.
Daesh mendominasi di sepertiga wilayah Irak, dengan kehadiran yang kuat di Provinsi Mosul, Anbar, Salahuddin dan beberapa bagian dari Diyala dan Kirkuk.
Didukung koalisi pimpinan AS, pasukan Irak merebut kembali Kota Tikrit pada 2014. Pada 2016, pasukan Irak menguasai kota Fallujah di Anbar.
Pertempuran di Mosul lebih menantang. Perlu sembilan bulan bagi otoritas Irak untuk mengambil kembali kota itu dari Daesh. Namun, Mosul berubah menjadi "kota hantu" setelah bentrokan hebat.
Pada 18 Desember 2017, Perdana Menteri Haider al-Abadi mengumumkan bahwa kehadiran Daesh di Irak telah diberantas.
Sekitar 5 juta warga Irak menjadi pengungsi. Biaya kehancuran di Mosul, Anbar dan Salahuddin berjumlah sekitar USD80 miliar. Puluhan ribu warga sipil juga kehilangan nyawa karena kekejaman Daesh.
*ditulis oleh Erdogan Cagatay Zontur