Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
15 Januari 2020•Update: 16 Januari 2020
James Reinl
UNITED NATIONS
Kelompok advokasi yang bermarkas di New York, Human Rights Watch, pada Selasa mengecam kondisi buruk warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di China dalam laporan tahunan tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan di seluruh dunia.
Direktur eksekutif kelompok itu, Kenneth Roth, mendeskripsikan serangkaian kekejaman Beijing terhadap anggota kelompok Muslim Turki di wilayah Xinjiang dan pembatasan kebebasan di Hong Kong.
"Beijing telah lama menekan para kritikus dalam negeri. Sekarang pemerintah China sedang mencoba memperluas sensor itu ke seluruh dunia. Untuk melindungi masa depan semua orang, pemerintah perlu bertindak bersama guna menentang serangan Beijing terhadap sistem hak asasi manusia internasional," kata Roth.
Dia berbicara dengan wartawan di New York pada Selasa setelah ditolak masuk ke Hong Kong pada Minggu.
Roth dijadwalkan untuk merilis laporan yang berisi pelanggaran hak asasi manusia di seluruh dunia yang berfokus pada otoritas China.
Menurut laporan PBB, sekitar 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di wilayah Xinjiang China, kini dipenjara dalam "kamp pendidikan ulang politik" yang terus berkembang.
Pemerintah China telah berulang kali mengatakan kamp tersebut menyediakan pendidikan dan pelatihan sukarela untuk membantu memberantas ekstremisme.
Menurut Roth, tindakan keras Beijing terhadap warga Uighur dan pengunjuk rasa di Hong Kong dapat terjadi karena pembangunan "negara pengintai yang luas".
Dia mendesak para pemimpin dunia dan organisasi internasional untuk lebih menekan pemerintah China.
"Kecuali jika kita ingin kembali ke era di mana orang digadaikan untuk dimanipulasi atau dibuang sesuai dengan keinginan tuannya, kita harus menahan serangan Beijing terhadap hak-hak kita," kata Roth.
Laporan Dunia 2020 setebal 652 halaman itu mengulas praktik-praktik hak asasi manusia di sekitar 100 negara.
Para peneliti juga membidik aksi pasukan rezim Assad dan Rusia di Suriah dan serangan koalisi pimpinan Saudi terhadap warga sipil di Yaman.