Safvan Allahverdi
30 November 2017•Update: 01 Desember 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Perwakilan Amerika Serikat (AS) di PBB Nikki Haley mengatakan uji coba nuklir Korea Utara yang diluncurkan baru-baru ini membuat Washington dan Pyongyang semakin dekat dengan perang.
"Jika sampai perang dimulai, itu karena agresi yang terus berlangsung seperti yang kita saksikan kemarin. Dan jika perang akhirnya terjadi, dipastikan rezim Korea Utara saat ini akan luluh lantak," kata Haley dalam pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB, Rabu.
Haley membuat pernyataan tersebut satu hari setelah Korea Utara melakukan tes peluru balistik inter-kontinental terkini, yang disebut oleh kantor berita KCNA bernama Hwasong-15.
Dalam siarannya, KCNA menyebut senjata itu dapat memicu ledakan nuklir di seluruh daratan AS.
Pada pertemuan itu, Halley juga mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump telah berkomunikasi dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan mengatakan bahwa sudah saatnya untuk Tiongkok memutus suplai minyak bumi ke Korea Utara.
"Sekarang kami ingin meminta Presiden Xi untuk ikut berdiri. Kami yakin, beliau mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang benar demi kebaikan semua negara," kata Haley.
Sebagai pemasok terbesar untuk Korea Utara, Tiongkok telah melebarkan perdagangan minyak bumi dengan Korea Utara.
Menurut Badan Informasi Energi AS Korea Utara mengimpor 5,5 juta barel minyak bumi dan 2,2 juta barel minyak yang sudah dimurnikan dari Tiongkok, tiap tahunnya.
"Tiongkok harus menunjukkan dan membuktikan kepemimpinannya. Tiongkok dapat melakukan hal itu sendiri, atau kami mengambil alih masalah minyak itu," tegas Haley.
Pada saat memberikan pidatonya itu, Haley juga mengajak anggota dewan untuk mengimplementasikan hukuman yang sudah dibuat oleh DK PBB sejak awal tahun, dan juga menguatkan sanksi kepada Korea Utara.
"Hari ini kami memanggil semua negara-negara untuk memutus hubungan dengan Korea Utara. Untuk mengimplementasikan sanksi yang sudah dibuat oleh PBB, semua negara memutus hubungan diplomatik dengan Korea Utara dan membatasi operasi ilmiah, komersial ataupun militer," sebut Haley.
Hingga kini, tercatat bahwa Korea Utara telah melakukan 15 kali uji coba nuklir di tahun 2017. Tidak hanya itu, enam tes nuklir bawah tanah juga sudah dibuat pada September lalu oleh negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un itu.