Maria Elisa Hospita
03 Januari 2018•Update: 04 Januari 2018
Afra Aksoy
TRIPOLI, Libya
Sebanyak 433 orang, termasuk 79 anak-anak dan 10 perempuan, tewas dalam kekerasan di Libya sepanjang tahun 2017, menurut sebuah lembaga hak asasi manusia pada Senin.
Dalam laporan tahunannya, Komisi Hak Asasi Manusia Nasional (NHRC) mengatakan diantara korban aksi-aksi kekerasan, bentrokan, dan eksekusi ilegal terdapat 79 anak-anak dan 10 perempuan.
Selain itu, 201 orang di negara itu dieksekusi; 157 korban tewas adalah warga sipil yang tewas karena bom di kota Benghazi, Derna dan Sirte, sedangkan 75 tewas dalam pertikaian dan kekerasan di wilayah Tripoli, Sabha, Benghazi, Zawiya, Sabratha dan tiga kota lainnya.
NHRC juga melaporkan adanya 143 yang ditangkap tanpa alasan jelas dan 186 lainnya yang diculik.
Mereka juga menemukan 34 kasus penyiksaan, penahan dan ancaman terhadap jurnalis dan aktivis hak asasi.
Sedangkan penduduk Libya, menurut NHRC, masih hidup dalam kondisi yang buruk dan masih menderita di tengah krisis kemanusiaan.
"Sekitar sepertiga dari populasi masih menderita. Mereka belum mendapatkan keamanan pangan dan kesehatan. Sekitar 3,5 juta warga hidup dalam kondisi yang buruk, termasuk 391.416 yang terpaksa mengungsi," jelas mereka.
Libya dirundung kekerasan dan kekacauan sejak 2011, ketika pemberontak menggulingkan Presiden Muammar Gaddafi yang sudah menjabat selama empat dekade.
Masa ketika negara itu tidak memiliki pemimpin disalahgunakan oleh beberapa pihak, termasuk pemerintah, militer, dan kelompok-kelompok militan bersenjata.