Iran tuding keterlibatan AS-Israel di balik serangan teroris ISIS di dalam negeri
Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel menyusupkan anggota ISIS untuk menyerang warga sipil dan aparat keamanan
ISTANBUL
Iran menuding Amerika Serikat dan Israel mengirim anggota kelompok ISIS (Daesh) ke dalam wilayahnya untuk melakukan serangan terhadap warga sipil dan aparat keamanan, di tengah meningkatnya ketegangan dan gelombang unjuk rasa anti-pemerintah.
Tudingan tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, pada Selasa (13/1). Ia mengatakan langkah itu dilakukan setelah apa yang ia sebut sebagai kegagalan Washington dan Tel Aviv dalam “perang 12 hari” melawan Iran, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
Menurut Mousavi, anggota ISIS yang ia sebut sebagai “tentara bayaran” disusupkan ke Iran untuk melakukan aksi kekerasan yang menyasar masyarakat sipil serta pasukan keamanan.
“Iran tidak akan mentoleransi pelanggaran apa pun terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayahnya,” ujar Mousavi.
Ia menambahkan bahwa aparat keamanan telah bertindak dengan menahan diri dalam menangani aksi protes, namun tidak akan membiarkan “unsur-unsur teroris” beroperasi di jalanan.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel atas tudingan tersebut.
Iran sendiri tengah diguncang aksi protes anti-pemerintah sejak bulan lalu, seiring memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya nilai mata uang nasional. Nilai tukar rial dilaporkan anjlok hingga 145.000 per dolar AS, yang berdampak pada lonjakan harga kebutuhan pokok.
Pejabat Iran sebelumnya juga menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata” dalam gelombang demonstrasi tersebut.
Tidak ada data resmi mengenai jumlah korban. Namun, Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan sedikitnya 646 orang tewas, termasuk dari kalangan aparat keamanan dan demonstran, serta lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka.
HRANA juga melaporkan sedikitnya 10.721 orang telah ditahan dalam aksi protes yang terjadi di 585 lokasi di seluruh Iran, mencakup 186 kota di 31 provinsi.
