Hayati Nupus
29 Juli 2019•Update: 29 Juli 2019
Gulsen Cagatay
ANKARA
India memimpin pasar energi terbarukan berbiaya rendah di negara-negara Asia Pasifik, menurut data terbaru Wood Mackenzie Power & Renewables pada Senin.
Biaya rata-rata listrik India (LCOE) yang menggunakan fotovoltaik surya (PV) turun menjadi USD38 per megawatt-jam (MWh) pada 2019, lebih murah 14 persen ketimbang batu bara yang secara tradisional menjadi sumber pembangkit listrik termurah.
Dalam pernyataannya Direktur Riset Wood Mackenzie Alex Whitworth mengatakan bahwa India adalah pasar listrik terbesar kedua di kawasan Asia Pasifik, setelah China, dengan kapasitas daya terpasang 421 gigawatt (GW).
"Kapasitas tenaga surya diperkirakan mencapai 38 GW tahun ini. Sumber daya tenaga surya berkualitas tinggi, skala pasar, dan persaingan mendorong biaya tenaga surya turun hingga setengah tingkat yang tampak di banyak negara Asia Pasifik lainnya," kata dia.
Australia pasar tenaga surya baru
Menurut data Wood Mackenzie, Australia akan membidik energi surya karena memiliki harga lebih kompetitif ketimbang gas dan batu bara.
"Solar LCOE turun 42 persen dalam tiga tahun terakhir dan akan mencapai USD48 per MWh pada 2020, mengalahkan semua kompetitor bahan bakar fosil," kata Wood Mackenzie.
Mengomentari data itu, Whitworth menyatakan bahwa menyimpan energi adalah salah satu pilihan utama yang membantu menyeimbangkan permintaan daya di negara ini.
Pada 2030, energi terbarukan akan memiliki diskon untuk daya berbahan bakar batu bara, rata-rata sekitar 17 persen di seluruh wilayah.
“Malaysia, Indonesia dan Jepang akan menjadi satu-satunya negara dengan LCOE terbarukan yang lebih tinggi ketimbagn batu bara,” menurut data.