Muhammad Latief
JAKARTA
Produksi gas lapangan Jangkrik di Fasilitas Penerimaan Darat (Onshore Receiving Facility/ORF) milik Eni Muara Bakau, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memproduksi gas enam bulan lebih cepat dari perencanaan.
“Kapasitas produksinya juga melebihi dari target awal,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan setelah meresmikan fasilitas tersebut, Selasa, dalam siaran resminya.
Pembangunan fasilitas ini tadinya direncanakan berlangsung selama empat tahun, namun selesai dalam 3,5 tahun. Percepatan pembangunan ini, menurut Menteri Jonan, mengakibatkan penghematan besar.
Rencana kapasitas produksi yang ditargetkan dari blok ini adalah sebesar 450 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau setara dengan 75 ribu barel minyak per hari (BCPD). Saat ini, produksinya sudah mencapai lebih dari 600 MMSCFD atau setara dengan 100 ribu BCPD.
Total produksi migas di Indonesia mencapai 2 juta barel setara minyak per hari, terdiri dari 800 ribu minyak dan 1,2 juta barel gas. Dengan beroperasinya Lapangan Jangkrik, produksi bertambah 100 ribu barel per hari.
Managing Director Eni Muara Bakau Fabrizio Trilli mengatakan, blok Jangkrik menjadi milestone, karena merupakan proyek gas laut dalam pertama di Indonesia.
Di Indonesia, operator blok yang berasal dari Italia ini memperkerjakan 400 orang pegawai, hanya 20 di antaranya pegawai asing.
Lapangan Jangkrik adalah salah satu dari lima tambahan lapangan migas yang beroperasi dalam tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi.
Nilai investasinya USD3,37 miliar yang mulai onstream pada Mei 2017. Gas dari lapangan ini disalurkan ke kilang Bontang dan separuhnya dimanfaatkan untuk keperluan domestik.
Lapangan lain yang beroperasi adalah lapangan Banyu Urip di Jawa Timur, yang mulai onstream train A pada 12 Desember 2015 dan train B pada 18 Januari 2016.
Lapangan Bangka, onstream pada Agustus 2016 dengan kapasitas produksi 100 MMSCFD dan 4000 BCPD dengan nilai proyek sebesar USD6,98 miliar.
Lapangan Donggi, Matindok, dan Senoro dengan nilai investasi USD2,8 miliar dan USD830 juta. Masing-masing lapangan ini berkapasitas 335 MMSCFD, 25 MMSCFD, dan 55 MMSCFD.
Lapangan Madura BD dengan kapasitas 100 MMSCFD namun baru memproduksi 46 MMSCFD & 3000 BCPD.
Terakhir adalah proyek Tangguh di Papua Barat dengan kapasitas fasilitas produksinya 3,8 juta metrik gas cair per tahun (Mtpa LNG) yang setara 700 MMSCFD dan 3200 BCPD.
news_share_descriptionsubscription_contact
