Politik, Dunia

Eropa desak pengamat internasional kunjungi Jammu Kashmir

Menteri Luar Negeri Finlandia mendesak para pengamat internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengunjungi wilayah Jammu Kashmir

Muhammad Abdullah Azzam   | 08.11.2019
Eropa desak pengamat internasional kunjungi Jammu Kashmir Warga Kashmir bentrok dengan polisi pemerintah India setelah seorang guru sekolah yang bernama Rizwa Assad Pandith meninggal di dalam penjara polisi, di distrik Pulwama, Awantipora selatan Srinagar pada 19 Maret 2019. (Faisal Khan - Anadolu Agency)

London, City of

Hasan Esen

LONDON

Finlandia yang menjabat sebagai presiden Dewan Uni Eropa pada periode sekarang meminta pengamat internasional untuk mengunjungi wilayah Jammu Kashmir karena situasi di sana sudah tak kondusif.

Pekka Haavisto, Menteri Luar Negeri Finlandia mendesak para pengamat internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengunjungi wilayah Jammu Kashmir.

Haavisto telah mengunjungi India dan bertemu dengan sejawatnya dari India, Subrahmanyam Jaishankar.

"Kami meminta komunitas diplomatik atau pengamat internasional PBB untuk mengunjungi kawasan itu dan mendapatkan pengalaman langsung," kata Haavisto kepada Times of India tentang Jammu Kashmir.

Haavisto mengatakan situasi di wilayah tersebut tidak dapat dipertahankan.

"Saya dapat melihat bahwa kekhawatiran (terkait masalah Kashmir) meningkat oleh banyak pemain internasional lainnya,” lanjut dia.

“Kami prihatin atas berita di mana beberapa politisi masih ditahan di penjara atau dalam tahanan rumah. Kebebasan dasar dan kebebasan berekspresi terbatas," ungkap Haavisto.

Menteri Haavisto menekankan negosiasi harus dimulai untuk menyelesaikan masalah perbatasan antara Pakistan dan India.

Jammu dan Kashmir mengalami blokade komunikasi sejak 5 Agustus, ketika pemerintah India menghapus Pasal 370 Konstitusi India, yang memberikan status khusus untuk kawasan itu.

Sejak saat itu, ratusan orang, sebagian besar pemimpin politik, ditangkap dan ditahan oleh pihak berwenang.

India mengklaim bahwa 93 persen dari pembatasan telah dilonggarkan di wilayah yang dilanda konflik, sebuah klaim yang tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Anadolu Agency.

Jammu dan Kashmir itu dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh.

Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın