Dunia

Donald Trump batalkan pertemuan dengan Kim Jong-un

Korea Utara mengaku menyesalkan keputusan Trump dan tetap "siap bertemu kapan saja"

Astudestra Ajengrastrı  | 25.05.2018 - Update : 25.05.2018
Donald Trump batalkan pertemuan dengan Kim Jong-un Ilustrasi - Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato sebelum menyerahkan Medal of Honor di Gedung Putih pada 24 Mei 2018 di Washington DC, Amerika Serikat. (Yasin Öztürk - Anadolu Agency)

Ankara

Michael Hernandez

WASHINGTON

Presiden Donald Trump pada Kamis secara resmi membatalkan pertemuan yang sedianya terjadi bulan depan dengan pemimpin Korea Kim Jong-un, yang sejatinya bisa menjadi perkembangan bersejarah bagi dua negara yang saling bermusuhan ini.

Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Kim, presiden AS mengatakan keputusan ini dibuat berdasarkan "kemarahan besar dan kekasaran yang ditunjukkan secara terbuka dalam pernyataan terbuka Anda".

"Oleh sebab itu, silakan rujuk surat ini untuk menyatakan bahwa pertemuan Singapura, demi kebaikan kedua pihak, namun untuk kerugian seluruh dunia, tidak akan terjadi," imbuh dia, menurut surat yang disediakan oleh Gedung Putih.

"Kesempatan yang terlewatkan ini adalah momen sedih dalam sejarah."

Trump dan Kim sebelumnya berencana untuk bertemu di sebuah negara Asia Tenggara, Singapura, pada 12 Juni yang seharusnya menjadi momen bersejarah di mana presiden AS yang tengah menjabat bertemu dengan pemimpin Korea Utara.

Namun pada Rabu, menteri luar negeri Korea Utara mengeluarkan ultimatum kepada AS untuk memilih apakah mereka menginginkan dialog atau perang, sembari menegaskan bahwa Washington adalah pihak yang menginginkan pertemuan pertama kali.

Choe Son-hui memperingatkan bahwa AS bisa "merasakan tragedi yang belum pernah mereka rasakan dan tidak akan pernah mereka bayangkan sampai sekarang," dan khususnya mengecam Wakil Presiden AS Mike Pence, yang disebutnya "politisi bodoh" karena membandingkan situasi Korea Utara dengan Libya pra-kematian Muammar Gaddafi pada 2011.

Korut sebelumnya meradang karena dibanding-bandingkan dengan "model Libya" dalam komentar yang dibuat oleh beberapa pejabat tinggi AS, termasuk Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, dengan Trump mendukung ide ini sampai Pence kembali mengeluarkan komentar sama pada Senin.

Kamis lalu, Korut melakukan penghancuran satu-satunya situs nuklir mereka sebagai niat baik, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan pembatalan pertemuan di Singapura.

Menyusul pengumuman Trump, Kantor Berita Yonhap milik Seoul melaporkan bahwa Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengadakan rapat dengan pejabat-pejabat tingginya "untuk mencari tahu apa niat Presiden Trump dan arti sebenarnya", menurut juru bicara kepresidenan Korea Selatan.

Trump berkata kepada reporter di Gedung Putih bahwa dirinya telah berbincang dengan Korea Selatan dan Jepang, yang menurutnya "tidak hanya siap apabila Korea Utara melakukan upaya bodoh atau berbahaya, namun juga bersedia menanggung beban finansial jika ada pengeluaran Amerika Serikat dalam operasi apapun, bila situasi tak menyenangkan itu terpaksa terjadi."

Pasukan militer kami," ujar dia, "siap bila dibutuhkan."

Dalam perkembangan pada Jumat pagi, Menteri Luar Negeri Korea Utara Kim Gye Gwan, melalui kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA, menyatakan menyayangkan pembatalan pertemuan ini dan bahwa rezim tetap siap bertemu dengan Amerika Serikat "kapan saja".

"Keputusan Trump ini tak sejalan dengan keinginan dunia," kata Kim dalam artikel tersebut, menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi dibutuhkan seiring dengan hubungan kedua negara yang "semakin saling bermusuhan".

"Pemimpin Kim Jong-un berusaha semaksimal mungkin untuk bertemu dengan Presiden Trump," imbuh menteri luar negeri tersebut.

Partai Republik merayakan pembatalan

Dalam pengumumannya, Trump seakan membuka celah untuk dialog lain bila Kim bersedia.

"Jika Anda berubah pikiran tentang pertemuan yang sangat penting ini, tolong jangan ragu menelepon atau menulis kepada saya," tulis Trump. "Dunia, dan Korea Utara khususnya, kehilangan kesempatan besar untuk menuju perdamaian dan kemakmuran dan keuntungan besar."

Sesaat setelah pengumuman ini disampaikan Trump, sekutu-sekutunya dari Partai Republik di Capitol Hill mengeluarkan pujian atas keputusannya.

"Korea Utara memiliki sejarah panjang meminta kelonggaran, bukannya bernegosiasi," ujar Senator Tom Cotton melalui pernyataan. "Bila pemerintahan yang lalu selalu terkena tipu daya mereka, saya memuji presiden karena bisa melihat kepalsuan Kim Jong-un."

Sementara itu, Senator Marco Rubio mencuit di Twitter, "Kom Jong Un, meminjam kata-kata orang bijak 'Selamat, Anda mempermainkan diri sendiri'. Membatalkan pertemuan dengan #NKorea adalah keputusan yang benar 100%. #KJU tak ingin kesepakatan. Dia dengan sengaja menyabotase pertemuan selama dua minggu ini & seolah-olah kami yang salah."

PBB 'sangat prihatin'

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengekspresikan keprihatinannya atas pembatalan pertemuan kedua negara, dan menekankan keduanya untuk meneruskan usaha berdialog.

"Saya sangat prihatin dengan pembatalan pertemuan yang direncanakan di Singapura antara Presiden Amerika Serikat dan pemimpin Republik Rakyat Demokratik Korea," kata Guterres dalam pidatonya di Geneva University, saat mempresentasikan agenda perlucutan senjata PBB.

"Saya mendorong kedua pihak untuk meneruskan dialog untuk menemukan jalan perdamaian dan denuklirisasi resmi Semenanjung Peninsula."

Guterres juga menyambut baik penutupan situs nuklir Korea Utara, Punggye-ri, meski mengatakan, "Sangat disayangkan ahli-ahli internasional tidak diundang untuk menyaksikan penutupan situs tersebut."


*Fatih Erel berkontribusi untuk artikel ini dari Jenewa.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın