Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 Oktober 2018•Update: 30 Oktober 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
Militer AS berencana untuk mengerahkan 5.200 pasukan ke perbatasannya di sebelah barat daya pada akhir pekan, menurut para pejabat Senin.
Jumlah itu akan lebih besar dari jumlah pasukan AS di Suriah dan akan lebih dari setengah jumlah pasukan di Misi Dukungan Tegas NATO di Afghanistan.
Jumlah ini meningkat jauh dari perkiraan awal 800 pasukan tugas aktif yang akan dikerahkan.
AS telah mengerahkan 2000 tentara dari Garda Nasional awal tahun ini.
Dalam sebuah konferensi pers, Jenderal Angkatan Udara Terrence O’Shaughnessy mengatakan bantuan militer adalah untuk membangun dan merapatkan titik-titik masuk, serta untuk mengatasi celah-celah di sekitar titik masuk.
Kapabilitas militer yang dikerahkan di antaranya Korps Insinyur Angkatan Darat, batalion teknik tempur dan tiga helikopter.
Jenderal itu mengatakan beberapa pasukan yang bertugas aktif akan dipersenjatai.
"Kami memiliki wewenang, yang diberikan kepada kami oleh Menteri James Mattis. Satuan yang biasanya mengangkat senjata, pada kenyataannya, dipersenjatai," kata O'Shaughnessy.
Komisaris Penjagaan Kepabeanan dan Perbatasan AS (CBP) Kevin McAleenan mengatakan para petugasnya di perbatasan akan didukung di udara oleh empat helikopter blackhawk serta enam helikopter lainnya.
Presiden AS Donald Trump telah tegas menanggapi soal rombongan migran, menyebutnya sebagai sebuah invasi dan mengatakan akan diatasi dengan cara militer.
"Banyak Anggota Geng dan orang jahat ikut dalam rombongan menuju perbatasan bagian selatan. Tolong kembali, Anda tidak akan diterima ke Amerika Serikat kecuali Anda menjalani proses hukum yang benar. Ini adalah invasi bagi negara kami dan pasukan militer sedang menunggumu!" cuit Trump di Twitter.
Rombongan tersebut berjumlah sekitar 3.500 orang saat menuju perbatasan AS.
Dimulai dari Honduras, rombongan terus bertambah hingga mencapai 7000 orang karena banyak orang dari negara-negara Amerika Tengah lainnya bergabung di tengah perjalanan sejauh 2.500 kilometer untuk mencapai AS dengan berjalan kaki.
Rombongan itu kebanyakan terdiri dari orang Honduras yang melarikan diri dari kekerasan dan kemiskinan di negara asal mereka.
McAleenan mengatakan ada rombongan serupa di wilayah perbatasan Guatemala-Meksiko yang terdiri dari 3.000 orang.
Sejauh ini, polisi Meksiko belum mencoba menghentikan rombongan tersebut.
Selama perjalanan dari perbatasan Guatemala-Meksiko ke wilayah Tapachula di Meksiko, polisi mendirikan blokade jalan dengan ratusan pasukan pengaman, tetapi mereka dibubarkan sebelum para migran sampai di sana.
Pengerahan pasukan adalah upaya terbaru pemerintahan Trump untuk menerapkan keamanan perbatasan yang lebih ketat, sementara rombongan semakin mendekati perbatasan AS.
Pada Jumat, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen meluncurkan bagian pertama dari dinding perbatasan yang pertama kali diumumkan oleh Trump pada kampanye pemilihan presiden.
Pasukan yang dikirim ke perbatasan, bagaimanapun, tidak akan terlibat dalam kegiatan penegakan hukum tetapi akan bertindak sebagai pendukung bagi agen patroli perbatasan yang sudah ada.
*Michael Hernandez berkontribusi pada berita ini