Hayati Nupus
05 Juni 2020•Update: 07 Juni 2020
JAKARTA
Seorang pria bersenjata menculik aktivis politik Thailand di Kamboja.
Lembaga pembela HAM Human Rights Watch mengatakan Wanchalearm Satsaksit, 37, diculik dengan todongan senjata saat berjalan kaki di depan apartemennya di Phnom Penh pada Kamis.
“Penculikan seorang aktivis politik Thailand terkemuka di jalanan Phnom Penh perlu tanggapan segera dari pihak berwenang Kamboja,” ujar Direktur Human Rights Watch Asia Brad Adams, pada Jumat, dalam rilis rangkaian penghilangan misterius aktivis Asia Tenggara.
Juru bicara kepolisian Kamboja mengatakan bahwa otoritas tidak menahan atau menangkap aktivis tersebut, dan tidak ada informasi cukup bagi polisi untuk membuka penyelidikan.
Wanchalearm melarikan diri dari Thailand setelah kudeta militer pada 2014.
Dia melanjutkan kegiatan politiknya di pengasingan dan otoritas Thailand mengeluarkan surat perintah penangkapan pada 2018 karena dianggap melanggar UU Computer Crime.
Saat itu, Wanchalearm mengungkapkan suara kritisnya terhadap pemerintah militer lewat laman Facebook.
Rabu lalu, dia kembali mengkritik Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha di media sosial.
Wanchalearm adalah satu dari 29 aktivis di pengasingan yang dituduh melanggar UU pencemaran nama baik, menghina atau mengancam monarki.
Sejak kudeta 2014, setidaknya delapan aktivis Thailand yang melarikan diri dan mengungsi di Laos, Kamboja, serta Vietnam, telah menghilang, bahkan ditemukan tewas.
Tagar #SaveWanchalearm menjadi trending di Twitter Thailand hari ini, dengan lebih dari 400.000 cuitan dan rencana demonstrasi.
Kelompok-kelompok HAM menuduh pemerintah di Asia Tenggara, termasuk Kamboja, Thailand dan Vietnam, saling membantu untuk secara paksa mengembalikan beberapa aktivis dan pencari suaka selama beberapa tahun terakhir.