Nasional

Survei: Kondisi Papua mengkhawatirkan

Persepsi masyarakat berbeda dan pentingnya dialog nasional

Hayati Nupus  | 14.12.2017 - Update : 15.12.2017
Survei: Kondisi Papua mengkhawatirkan Ilustrasi - Aktivis mahasiswa Papua bentrok dengan polisi Indonesia dalam sebuah demonstrasi di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 1 Desember 2016. Petugas polisi menembakkan meriam air dan menangkap seratus pemrotes yang dianggap provokator di Jakarta. Aksi tersebut meminta kemerdekaan Papua dan memisahkan diri dari Indonesia. (Dasril Roszandi - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Hayati Nupus

JAKARTA

Survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Change.org menyimpulkan bahwa kondisi Papua saat ini mengkhawatirkan.

Seperti yang dikatakan Direktur Kampanye Change.org Indonesia Arief Aziz pada Kamis, sebanyak 40,77 persen warga Papua Asli menyebutkan kondisi Papua sangat mengkhawatirkan, sedang 28,54 persen menyebutkan mengkhawatirkan.

Begitu pula, pada survey yang sama, 33,14 persen warga luar Papua menyebutkan kondisi Papua mengkawatirkan. Sedang 41,44 persen warga Papua non asli menyebutkan kondisi Papua baik dan 34,24 persen menyebutkan mengkawatirkan.

Survei ini melibatkan lebih dari 27 ribu responden, terdiri dari 2 persen warga asli Papua, 3 persen penduduk Papua non asli dan 95 persen warga luar Papua. Survei dilakukan selama 3 pekan pada November.

“Survei ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana publik, terutama warganet melihat persoalan di Papua, apa saja isu yang menjadi perhatian dan sejauh mana pemahaman mereka tentang isu di Papua,” ujar Arief pada Kamis di Jakarta.

Survei juga menyimpulkan, kualitas pendidikan rendah merupakan persoalan umum di Papua, dengan angka 44 persen. Disusul infrastruktur dan transportasi sebanyak 41 persen, eksploitasi sumber daya alam dan investasi 38 persen, dan akses ekonomi serta kemiskinan 23 persen.

Persepsi berbeda

Hasil survei menyimpulkan adanya perbedaan persepsi dari ketiga jenis responden.

Selain soal kondisi Papua, kesimpulan berbeda juga tampak pada bahasan mengenai persoalan terbesar di tanah Papua. Sebanyak 14,02 persen responden warga Papua asli menjawab persoalan terbesar adalah pelanggaran HAM.

Sedang 12,84 persen warga Papua non asli menjawab persoalan terbesar adalah Miras dan Narkoba, sementara 14,33 persen warga luar Papua menjawab soal kualitas pendidikan rendah.

“Perbedaan persepsi tentang kondisi Papua ini menunjukkan bahwa kondisi Papua masih bermasalah, dinilai aman bagi pendatang karena banyak tentara namun tidak aman bagi warga asli karena tingginya kasus pelanggaran HAM,” ujar tim Kajian Papua LIPI Cahyo Pamungkas.

Sedang hal terpenting yang harus dilakukan untuk menyelesaikan persoalan di Papua, mayoritas responden menjawab seragam, yaitu pentingnya peningkatan SDM. Kesimpulan itu diperoleh dari 26 persen warga luar Papua, 18 persen penduduk Papua non asli dan 20 persen warga asli Papua.

Meski terdapat perbedaan persepsi, mayoritas responden menjawab bahwa dialog nasional adalah upaya penting untuk mencari solusi persoalan di Papua. Sebanyak 74,89 persen warga Papua asli menyimpulkan dialog sebagai solusi, 58,95 persen warga Papua non asli, dan 40,54 persen luar Papua juga menyimpulkan hal sama.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın