Nicky Aulia Widadio
24 November 2020•Update: 25 November 2020
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan jumlah pengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Merapi telah bertambah menjadi lebih dari 2 ribu orang.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan para pengungsi tersebar di 15 pos pengungsian di Magelang, Boyolali, Klaten, dan Sleman.
Pengungsi terbanyak berada di Magelang, dimana 815 warga yang tergolong kelompok rentan mengungsi bersama 305 orang lainnya sebagai pendamping mereka.
Kelompok rentan yang dimaksud yakni orang lanjut usia, ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan balita, serta penyandang disabilitas.
“Mereka yang mengungsi sementara waktu ini ditampung di desa persaudaraan atau sister village. Desa-desa di lereng Gunung Merapi ini telah menjalin kerja sama sehingga pada saat harus mengungsi, warga suatu desa akan segera menuju desa yang telah ditentukan,” kata Raditya melalui siaran pers, Selasa.
Dia melanjutkan, desa yang menjadi tempat pengungsian juga telah menetapkan protokol kesehatan dan menyiapkan fasilitas mencuci tangan.
“Pelayanan kesehatan dilakukan rutin kepada warga di pos penampungan,” ujar dia.
BNPB, lanjut Raditya, telah menyalurkan dana siap pakai sebesar Rp1 miliar untuk setiap kabupaten dan dukungan logistik untuk pencegahan Covid-19.
Logistik tersebut antara lain satu unit mesin tes antigen, 15 ribu catridge antigen, 200 ribu masker kain, dan 250 jerigen cairan penyanitasi tangan.
Sebelumnya, Balai Pengamatan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih tinggi setelah berstatus Level III atau Siaga sejak 5 November 2020.
BPPTKG mencatat telah terjadi guguran tebing lava Merapi pada Minggu pukul 06.50 WIB.