Nicky Aulia Widadio
19 Mei 2021•Update: 19 Mei 2021
JAKARTA
Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tidak meragukan efektivitas vaksin Covid-19 AstraZeneca, mengingat vaksin ini telah terbukti aman secara global.
Juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan manfaat dari vaksin AstraZeneca lebih besar dibandingkan risiko terinfeksi Covid-19.
Indonesia, lanjut dia, akan tetap menggunakan vaksin AstraZeneca, meski ada satu ‘batch’ vaksin jenis ini yang dihentikan sementara penggunaannya.
“Penggunaan vaksin AstraZeneca tetap terus berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar, jadi masyarakat tidak perlu ragu karena vaksin ini aman,” kata Nadia kepada Anadolu Agency, Rabu.
Secara keseluruhan, Indonesia telah menerima sekitar 6,4 juta dosis vaksin AstraZeneca, namun hanya 1 ‘batch’ yang terdiri dari 448 ribu dosis yang penggunaannya dihentikan sementara.
Penghentian sementara tersebut merespons adanya laporan dua warga Jakarta yang meninggal usai disuntik vaksin tersebut.
Menurut Nadia, penyebab kematian kedua warga tersebut masih dalam investigasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-imunisasi (Komnas KIPI).
Belum ada kesimpulan akhir apakah peristiwa tersebut berkaitan langsung dengan vaksinasi.
Pakar sebut vaksin AstraZeneca aman
Pakar imunisasi, Elizabeth Jane Soepardi mengatakan vaksin AstraZeneca sejauh ini terbukti aman berdasarkan rekam jejak penggunaannya secara global.
“Lebih dari 1 miliar dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca telah diterima masyarakat dunia. WHO juga sudah menyatakan vaksin ini aman,” ujar Jane.
Vaksin AstraZeneca sendiri merupakan jenis vaksin yang saat ini paling banyak digunakan di dunia.
Lebih dari 70 negara telah menerbitkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) untuk vaksin AstraZeneca.Negara-negara di Eropa telah melaporkan penurunan angka kematian yang signifikan setelah program vaksinasi Covid-19 berjalan yang salah satunya menggunakan AstraZeneca.
Hasil penelitian di Inggris menunjukkan bahwa 21 hari pasca-penyuntikan dosis tunggal vaksin AstraZeneca atau Pfizer-BioNTech, terjadi penurunan angka infeksi Covid-19 sampai 65 persen.
Menurut Jane, efek samping yang jarang terjadi setelah vaksinasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan risiko kematian yang berpotensi terjadi akibat infeksi Covid-19.
Penggunaan vaksin AstraZeneca memang sempat dihentikan sementara di beberapa negara Eropa pada akhir Maret lalu karena dugaan pembekuan darah.
Namun kajian yang dirilis Regulator Obat Uni Eropa (EMA) pada 7 April 2021 menunjukkan, kejadian pembekuan darah setelah pemberian vaksin AstraZeneca masih dalam kategori “sangat jarang terjadi”.
Terdapat 222 kasus pembekuan darah dari total pemberian 34 juta dosis vaksin pada saat itu.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kemungkinan terjadinya pembekuan darah akibat Covid-19 sebesar 165 ribu kejadian per 1 juta kasus.
“Data kesehatan di Eropa Utara sangat detail, sehingga ditemukan bahwa kejadian pembekuan darah sebelum dan sesudah adanya vaksinasi nyatanya tidak meningkat,” jelas dia.
“Misalnya data pembekuan darah dalam setahun ada 1.000 kasus, setelah ada vaksinasi dengan AstraZeneca datanya tidak meningkat,” lanjut dia.
Jane menilai amat wajar apabila negara mengidentifikasi potensi efek samping vaksin usai imunisasi.
Hal tersebut bukan berarti bahwa kejadian itu berkaitan langsung dengan vaksinasi, melainkan harus diselidiki untuk memastikan bahwa masalah keamanan ditangani dengan cepat.
“Kita harus mengetahui riwayat penyakit seseorang sebelum memutuskan apakah kejadian ikutan pasca-imunisasi terkait dengan vaksin. Itu lah yang saat ini sedang dikaji Komnas KIPI,” tutur Jane.