Hayatı Nupus,Errıc Permana
24 Januari 2020•Update: 27 Januari 2020
JAKARTA
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengungkapkan mayoritas WNI yang menjadi teroris lintas batas atau foreign terrorist fighter (FTF) adalah perempuan.
Di Suriah misalnya, Mahfud mencontohkan, dari 184 WNI yang menjadi teroris lintas batas jumlah laki-lakinya hanya 33 orang.
“Sisanya perempuan dan anak-anak,” ujar Mahfud, dalam sesi wawancara khusus bersama Anadolu Agency, Jumat, di Jakarta.
Itulah mengapa kini pola teror berubah, lanjut Mahfud, menyasar perempuan dan anak-anak sebagai target pelaku.
Misalnya pada kasus bom gereja di Surabaya dan penusukan mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang.
Pada kasus bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Pantekosta, pelaku adalah perempuan bersama suami dan empat anaknya.
Esoknya, bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya juga dilakukan oleh keluarga, yaitu TW, istri dan tiga anaknya.
Begitu pula, salah satu pelaku penusukan Wiranto adalah perempuan, bersama suami dan anaknya.
“Ini harus diperhatikan,” kata Mahfud.
Mahfud mencatat ada sekitar 660 orang WNI yang menjadi teroris lintas batas.
Mereka tersebar di beragam negara, di antaranya Suriah, Turki, Filipina dan Afghanistan.