Peter Kenny
20 Agustus 2024•Update: 21 Agustus 2024
JENEWA
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa Hans Kluge mengatakan bahwa mpox atau virus cacar monyet yang menjadi perhatian dunia "bukanlah Covid baru."
"Mpox bukanlah Covid yang baru, terlepas dari apakah itu pox klade I, yang menjadi penyebab wabah di Afrika Timur dan Tengah, atau pox klade II, yang menjadi penyebab wabah tahun 2022 yang awalnya berdampak di Eropa dan terus beredar di sana," kata Kluge pada Selasa, menjelaskan berbagai varian penyakit tersebut.
"Berdasarkan pengetahuan kita, mpox terutama menular melalui kontak kulit ke kulit dengan lesi, termasuk saat berhubungan seks."
Menurut WHO, salah satu tujuan Deklarasi Darurat Kesehatan Global adalah agar semua negara waspada dan siap jika kasus cacar masuk ke wilayah mereka.
"Kami tahu cara mengendalikan mpox, dan, di Kawasan Eropa, langkah-langkah yang diperlukan untuk menghilangkan penularannya sepenuhnya," kata Kluge.
WHO mengatakan di situs webnya bahwa dari kasus yang dikonfirmasi di kawasan Afrika WHO pada 2024, sebanyak 95 persen dilaporkan di Republik Demokratik Kongo (DRC), yang sedang mengalami peningkatan kasus mpox.
Terdapat lebih dari 15.000 kasus yang kompatibel secara klinis dan lebih dari 500 kematian yang dilaporkan, sudah melampaui jumlah kasus yang diamati di DRC pada 2023.
Selain itu, tahun ini, kasus mpox, yang terkait dengan satu varian mpox, sejauh ini telah dilaporkan di Republik Afrika Tengah dan Republik Kongo, dan kasus yang terkait dengan varian lain telah dilaporkan di Kamerun, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, dan Afrika Selatan.
Pada 15 Agustus, Swedia menjadi negara pertama di luar benua Afrika yang mengonfirmasi varian mpox klade 1b pada individu dengan riwayat perjalanan ke Afrika tengah, menurut WHO.
Kluge mengatakan kawasan Eropa kini melihat sekitar 100 kasus mpox baru setiap bulan.
"Meskipun siapa pun dapat tertular mpox, tidak semua orang memiliki risiko yang sama," kata Kluge.
"Orang-orang yang berinteraksi erat dengan seseorang yang menularkan penyakit, termasuk melalui hubungan seksual, memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi, terutama pasangan seksualnya, tetapi juga, berpotensi, anggota rumah tangga dan petugas kesehatan," tukas dia.