24 Desember 2017•Update: 26 Desember 2017
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Minggu mengatakan Turki bertekad untuk membebaskan Afrika dari Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di belakang kudeta tahun lalu yang dikalahkan oleh Pemerintah Turki.
Berbicara di Bandara Esenboga di ibu kota Ankara sebelum keberangkatannya ke Sudan, Erdogan mengatakan bahwa FETO telah membodohi orang-orang melalui pendidikan dan layanan bantuan palsu.
“Turki bertekad untuk membersihkan Afrika dari pembunuh FETO", kata Erdogan menjelang kunjungan tiga hari ke Sudan, Chad dan Tunisia.
“Setelah usaha kudeta, banyak negara Afrika yang mendeportasi anggota FETO dan memindahkan sekolah-sekolah yang dikelola oleh kelompok tersebut ke Yayasan Maarif kita,” kata Erdogan.
Yayasan Maarif, yang sebelumnya dikelola oleh FETO, baru-baru ini menguasai beberapa sekolah di seluruh dunia, termasuk 32 sekolah yang berada di Afrika. Angka itu dirilis oleh Kementerian Pendidikan Nasional Turki.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS yaitu Fetullah Gulen, melakukan upaya kudeta yang berhasil dikalahkan pada 15 Juli 2016 lalu. Kudeta menyebabkan 250 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka.
Saat ini, Erdogan menambahkan, dia masih belum memutuskan untuk menghubungi Presiden A.S. Donald Trump, terlebih setelah resolusi Majelis Umum PBB menegaskan soal Yerusalem Timur adalah milik Palestina.
Sebanyak 193 anggota PBB pada hari Kamis mengumumkan sebuah resolusi untuk Yerusalem dan meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibu kota Israel.
Pada 6 Desember, Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel meski mendapat tentangan dan memicu demonstrasi di seluruh dunia Muslim. Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya telah berada di garis depan internasional yang menentang langkah A.S.