14 Juli 2017•Update: 14 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Duta Besar Turki di Indonesia, Dr. Şander Gürbüz, menjelaskan, organisasi teroris di bawah kendali Fethullah Gullen melakukan berbagai upaya demi bisa mengambil alih kekuasaan di Turki.
“Gullen menyebut dirinya imam semesta dan dianggap sebagai messiah oleh pengikutnya. Upaya kudeta 15 Juli tahun lalu jelas dilakukan oleh FETO. Mereka ingin mengganti rezim pemerintahan dan mengambil alih kontrol negara berdasarkan paham keagamaan mereka yang sudah tidak asing lagi di Turki,” ujar di Kedutaan Besar Turki, Jakarta, Jum'at (14/7).
Para pengikut Gullen menyusup ke wilayah strategis seperti kepolisian, kejaksaan, dan angkatan bersenjata. “Mereka menganggap dirinya sebagai generasi emas. Loyalitas mereka terhadap Gullen membuat mereka melakukan apapun meskipun melanggar hukum, agama, serta kode etik demi bisa mencapai kepentingan kelompok mereka.”
Kemampuan FETO melakukan penetrasi ke berbagai lingkaran pemerintahan menjadikan FETO sebagai organisasi teroris generasi baru yang berbasis pada kemunafikan. Mereka melakukan kecurangan untuk bisa meloloskan pengikutnya ke institusi publik serta melakukan pencucian uang dan tindak kriminal lainnya.
“Pemerintah Turki mengambil kebijakan melawan FETO dengan menutup sekolah yang memimiliki keterkaitan dengan FETO. Sekolah menjadi pusat perekrutan utama dan juga pembiayaan bagi FETO,” jelas dia.
Gurbuz mengatakan, pemerintah Turki tidak menyangka bahwa skala penetrasi mereka terhadap tentara bersenjata Turki dalam upaya kudeta tersebut cukup kuat. Mereka mengepung kota untuk menyerang institusi penting negara dengan brutal serta menyerang warga sipil yang menghadang upaya mereka.
“FETO melakukan tindakan tanpa seorangpun menyadari keberadaannya. Dan mereka meraih hampir seluruh pusat kekuatan. Setelah satu tahun melakukan upaya administrasi, investigasi pengadilan, serta kajian kriminologi, kita memiliki keyakinan yang kuat tentang siapa yang ada di belakang upaya kudeta tersebut,” terangnya.
Saat ini terdapat 78 proses pengadilan di 23 provinsi berbeda terkait upaya kudeta tersebut. “Kejaksaan sudah mengumpulkan bukti-bukti yang tidak bisa disalahkan terkait keterlibatan FETO dalam upaya kudeta.”
Keterlibatan FETO terbukti melalui pengakuan dari ribuan orang yang terafiliasi dengan FETO, rekaman video, serta komunikasi melalui aplikasi Bylock yang digunakan oleh sesama anggota FETO.
“Itu sebenarnya adalah terobosan baru dan terbaik yang dilakukan kepolisian Turki yang berhasil membaca sandi sistem komunikasi komunikasi terenkripsi Bylock.”