17 Juli 2017•Update: 18 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengikut dan simpatisan FETO banyak menyusup di berbagai institusi birokrasi termasuk juga polisi, tentara, dan kejaksaan dengan berbagai level karir dan juga profesi. Setelah upaya kudeta selesai dengan kegagalan, puluhan ribu orang terduga anggota FETO ditangkap.
Namun, Duta Besar Turki untuk Indonesia, Sander Gurbuz, mengatakan, Turki selalu mengedepankan proses hukum yang baik dan adil. Hal tersebut terlihat dari kembali dibebaskannya puluhan ribu terduga anggota FETO yang ternyata tidak terbukti dan kini mereka sudah kembali bekerja di posisi dan profesi mereka sebelumnya.
“Tetapi proses pengadilan masih berlangsung untuk beberapa kasus dan kita berharap dapat segera menemukan orang-orang yang terafiliasi dengan Fethullah Gullen sehingga kehidupan masyarakat di Tukri bisa kembali ke kondisi normal,” ujar dia, belum lama ini.
Saat ini Turki masih menetapkan kondisi darurat di negaranya sejak upaya kudeta satu tahun silam hingga 19 Juli tahun ini.
Selanjutnya, Gurbuz menjelaskan, aksi long march pendukung oposisi Partai Rakyat Republik (CHP) dari Ankara ke Istanbul merupakan bentuk solidaritas mereka atas ditangkapnya Enis Berberoglu, salah satu anggota parlemen dari partai mereka yang dijebloskan ke penjara.
“Aksi protes tersebut berlangsung damai. Mereka menuntut agar proses pengadilan berlangsung lebih adil dan lebih baik. Protes tersebut merupakan hak masyarakat dan juga pastinya hak anggota parlemen dalam demokrasi.”
Meskipun begitu, sejak awal tragedi upaya kudeta 15 Juli hingga saat ini, seluruh pimpinan partai oposisi masih memiliki pandangan dan pendapat yang sama bahwa aksi tersebut digerakkan oleh Fethullah Gullen dan juga para anggotanya.
“Mereka juga mengutuk agar pimpinan FETO dapat bertanggung jawab atas kasus tersebut. Aksi protes yang belakangan terjadi tidak mengubah pandangan oposisi bahwa FETO adalah organisasi teroris,” jelas dia.