27 Juli 2017•Update: 28 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Tak semua warga negara Indonesia (WNI) yang kembali ke Indonesia dari Suriah adalah eks al-Dawla al-Islamiya al-Iraq al-Sham (Daesh) atau ISIS. Sebagian dari mereka ternyata adalah pihak yang bergabung dengan kelompok oposisi, di antaranya relawan yang membantu kaum Sunni melawan rezim Syiah di Suriah.
Berdasarkan catatan pemerintah, terdapat sekitar 40-50 orang WNI yang kembali dari Suriah. Angka itu belum terklasifikasi berdasarkan asal kelompok.
“Belum terpilah. Persoalannya tak mudah membedakan mana WNI yang pernah bergabung dengan Daesh, mana yang berasal dari kelompok oposisi yang lain,” ujar pengamat terorisme Solahudin yang dihubungi Anadolu Agency, Kamis.
Menurut Solahuddin, WNI eks kelompok oposisi Suriah tak membawa misi terror di Indonesia dan punya kemampuan militer yang terasah. Sangat berbeda dengan pelaku teroris Indonesia yang kemampuannya masih belum mumpuni.
“Mereka lebih berbahaya, karena kembali membawa pengetahuan baru tentang kemiliteran dan manajemen terror,” kata Solahuddin yang menulis buku berjudul NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia.
Sedang WNI yang kembali dari Marawi baru sekitar 4-5 orang saja tahun 2016.
Solahuddin menjelaskan kalau migrasi WNI Daesh dari Filipina terbanyak sepanjang tahun 2000-2005.
“Diantara mereka ada pelaku bom Filipina tahun 2000 Fatur Rahman Al-Ghozi, dan Dulmatin, yang kepalanya dihargai USD10 juta oleh pemerintah Amerika Serikat,” ujarnya.