28 Juli 2017•Update: 30 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Perempuan menempati jumlah terbanyak dari WNI yang dideportasi karena hendak bergabung dengan al-Dawla al-Islamiya al-Iraq al-Sham (Daesh) atau ISIS. Dari total 161 orang yang dideportasi sepanjang Januari-Juni 2017, 125 di antaranya perempuan dan anak-anak.
Direktur Eksekutif C-SAVE Mira Kusumarini mengatakan, selama ini, radikalisme dianggap ranah maskulin. Perempuan berangkat menuju Suriah demi dapat berperan di sektor domestik. Menyiapkan logistik perang sekaligus melahirkan anak yang kelak membantu mendirikan negara khilafah.
“Mereka direncanakan menghasilkan generasi teroris yang akan datang. Keterlibatan dominan perempuan dalam radikalisme ini menjadi catatan penting bagi kami,” ujar Mira.
Sebagian perempuan itu berangkat menyusul suaminya yang turut berperang dengan Daesh. Sebagian lainnya berangkat dalam kondisi lajang demi menikah dengan laki-laki Daesh. Mereka memperoleh ajakan turut menyeberang ke Suriah dan menikah dengan laki-laki Daesh melalui internet.
“Mereka dijodohkan melalui internet. Selain memperoleh keturunan, kekerabatan itu memudahkan komunikasi,” ujar Mira.
Sejumlah 161 WNI tersebut sebagian besar dideportasi Turki dalam perjalanan menuju Suriah. Beberapa lainnya merupakan buruh migran Indonesia yang bekerja di Filipina, Singapura, Turki dan Jepang.
Berdasarkan data pemerintah, lebih dari 1000 orang WNI telah berangkat ke Suriah demi bergabung dengan Daesh. Selain 161 orang yang telah kembali, diperkirakan ada 500 orang WNI lagi yang akan dideportasi dari Turki tahun ini.