Shenny Fierdha Chumaira
06 Juli 2018•Update: 06 Juli 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Polisi menyatakan terduga pelaku bom yang meledak di Desa Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sering mengikuti pengajian bersama dengan sesama narapidana teroris (napiter).
Terduga bernama Abdullah tersebut merupakan mantan napiter kasus bom sepeda di Kalimalang, Jakarta, pada 2010.
Dia ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang pada 2010 dan bebas pada 2015.
"Dia diduga sering berkomunikasi dan bergaul dengan rekan napiter lainnya dalam suatu pengajian," ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta, Jumat.
Sejak menghirup udara bebas, terduga banyak menyendiri sembari mengikuti pengajian dengan kelompok Jemaah Ansharud Daulah (JAD) Pasuruan.
"Sehingga dapat kita duga dia masuk ke dalam jaringan JAD," kata Iqbal.
Namun, Iqbal tidak merinci bagaimana pengawasan kepolisian terhadap napiter dan mantan napiter untuk mencegah kembali ke paham terorisme.
"Napiter sudah jadi standard operating procedure kami, yaitu polisi bekerja sama dengan stakeholder terkait melakukan pemantauan, deradikalisasi, dan komunikasi dengan masyarakat setempat untuk mengembalikan napiter ke jalan yang benar," ungkap Iqbal.
Meski belum bisa memastikan ke mana Abdullah bersembunyi, Iqbal menegaskan polisi masih terus memburu.
"Kalau masyarakat melihat orang yang mirip dengan terduga yang terluka akibat serpihan ledakan, segera informasikan ke polisi setempat," ujar Iqbal.
Walau buron, namun Iqbal menduga bdullah tidak membawa bom saat kabur dari kejaran polisi.
Menyangkut apakah terduga terkait dengan bom gereja Surabaya, Jawa Timur, pada Mei dan ke mana sebetulnya bom rakitan terduga ditujukan, Iqbal tidak berkata banyak.
"Kita sedang bekerja. Tim sedang menyelidiki," tukas Iqbal singkat.
Pada Kamis siang, terdengar beberapa ledakan di rumah yang dikontrak oleh Abdullah dan istrinya, Dina Rohana, di Desa Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Bom meledak tiba-tiba saat dirakit oleh Abdullah dan melukai bocah laki-laki usia enam tahun yang diduga anak Abdullah.
Polisi mengatakan bahwa bom berdaya ledak rendah dan tergolong sebagai bom ikan.