Hayati Nupus
21 Juni 2018•Update: 21 Juni 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah mengatakan pergerakan titik panas bulan ini meningkat 30 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
Meski begitu, ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Panjaitan, jumlah titik panas sepanjang tahun ini masih lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya.
“Masih terkendali, apalagi semua pemerintah provinsi siaga dan antisipatif,” kata Raffles, Kamis, di Jakarta.
Sejak Januari hingga 31 Mei tahun ini, ungkap Raffles, sudah 22.000 hektare hutan dan lahan yang terlalap api. Komposisinya separuh rawa dan sisanya lahan gambut.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menetapkan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli-Agustus.
Menurut Raffles pemerintah sudah total mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terlebih Agustus mendatang Indonesia akan menjadi tuan rumah ASEAN Games.
Wilayah Sumatera Selatan, tempat lokasi pergelaran ASEAN Games, merupakan lahan gambut yang lebih mudah terbakar.
Pemerintah pusat, ujar Raffles, aktif memantau perkembangan titik panas dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi.
“Manggala Agni juga sudah bergabung dengan tim Satuan Tugas Provinsi,” kata Raffles.
Raffles mengatakan sudah sejak Mei lalu patroli terpadu menggerakkan masyarakat di sekitar seribu desa rawan karhutla untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran. Di antaranya di Banyuasin, Bukit Komering Ulu dan Bukit Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Raffles juga mengatakan sudah tersedia enam unit helikopter, empat di antaranya milik pemerintah dan sisanya milik perusahaan. Badan Nasional Penanganan Bencana juga telah menyiapkan helikopter untuk memodifikasi cuaca dengan hujan buatan.