Maria Elisa Hospita
27 Februari 2018•Update: 28 Februari 2018
Kyaw Ye Lynn
YANGON, Myanmar
Setidaknya enam orang telah ditangkap karena diduga memasang bom yang meledak pada akhir pekan lalu di beberapa wilayah ibu kota Rakhine, Sittwe, kata polisi, Selasa.
Seorang pejabat di kantor polisi Sittwe mengkonfirmasi bahwa semua terduga merupakan kelompok etnis Buddha Rakhine.
"Pengadilan kota telah menginstruksikan untuk menahan mereka selama dua pekan," kata dia.
Salah satu terduga diketahui bernama Soe Naing, anggota Dewan Nasional Arakan (ANC), yaitu asosiasi payung yang mewakili kelompok pemberontak etnis.
Tiga bom meledak di beberapa titik Sittwe pada Sabtu dini hari. Seorang anggota polisi terluka dalam ledakan bom di rumah seorang pejabat tinggi, sementara dua bom lagi meledak di dekat pengadilan kota dan kantor pencatatan tanah.
Selain itu, polisi juga menemukan tiga bom lain yang belum diledakkan di kota tersebut.
Ledakan di Sittwe terjadi setelah sebuah bom meledak di bank daerah, di kota Lashio, negara bagian Shan, pada Rabu lalu, yang menewaskan dua karyawan dan melukai 22 lainnya.
Ada beberapa kelompok pemberontak bersenjata etnis yang aktif di Shan. Aliansi Utara - sebuah perkumpulan Tentara Independen Kachin (KIA), Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) dan Tentara Arakan (AA) - menyerang pos-pos pemeriksaan militer, pos polisi, dan 105th Mile Trade Zone di Muse, Shan, pada November 2016.
Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangkaian ledakan tersebut.