Shenny Fierdha Chumaira
BALI
Bagi mereka yang percaya Tuhan, Sang Khalik tidak hanya diyakini dalam hati tapi juga dijalani dalam setiap hela nafas.
Setiap agama dan aliran kepercayaan menyembah Tuhannya masing-masing dan menganggap tempat ibadah beserta alat perlengkapan sembahyang sebagai benda suci dan sakral yang patut dijaga, apapun yang terjadi. Di situlah rumah Tuhan, bagaimanapun juga.
Sama halnya dengan segelintir laki-laki warga Dusun Umanyar, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Mereka memilih bertahan di Pura Dalem Alas Pulaki di kawasan rawan bencana (KRB) level tiga, hanya delapan kilometer dari puncak kawah Gunung Agung yang sedang bergejolak.
Ketika tim Kepolisian Resor Karangasem berpatroli malam, sepuluh laki-laki berusia 35 tahun ke atas terlihat duduk di selasar pura.
Mereka sedang menjaga pura, katanya, saat polisi menanyai mengapa mereka tak berada di pengungsian.
"Siang kami pergi ke pengungsian di Denpasar, tapi malam kami ke pura ini. Kami jaga," kata Gusti Nyoman Raka, 45 tahun, salah seorang warga Umanyar yang ikut berjaga malam itu.
Raka menegaskan, ia bersama rekan-rekannya hanya menjaga pura setiap malam saja. Di pagi sampai sore, mereka habiskan hari di pengungsian.
"Kami pun ke pura tergantung cuaca. Kalau cuaca bagus, barulah kami ke sini," kata Raka, mengingat Bali belakangan ini sering hujan.
Ajakan polisi untuk kembali ke posko pengungsian ditampik. Dialog berjalan alot, karena Raka dan warga lainnya ngotot tak mau meninggalkan pura.
"Tolong pikirkan lagi, demi keselamatan sendiri," bujuk Wakil Kepala Kepolisian Resor Karangasem Komisaris Anak Agung Gede Mudita.
Namun Raka beserta warga Umanyar lainnya tak bergeming.
Mereka mengaku tak hanya menjaga pura. Mereka juga menjaga pratima, arca berbentuk Dewa yang digunakan untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa dan disembah umat Hindu setiap beribadah di kompleks pura itu.
“Pratima itu berlapis emas dan berhias kepingan uang. Bagian tengah yang berlubang berlapis emas pula,” ujar Raka.
Mudita masih mencoba bersikukuh mengimbau warga kembali mengungsi. Dusun Umanyar, sebut dia, masuk dalam zona berbahaya.
“Karena nyawa tak bisa diganti," tegas Mudita.
Kepada warga, Kepala Satuan Samapta Bhayangkara Kepolisian Resor Karangasem Ajun Komisaris I Nengah Sukerna lantas membeberkan bahaya yang akan dihadapi nanti jika Gunung Agung mengamuk.
"Kalau gunungnya meletus, desa dan dusun yang berada dalam KRB level dua dan tiga akan diterjang awan panas berkecepatan 300-400 kilometer per jam. Tidak akan bisa kabur, percuma lari," ujar Sukerna.
Nihil. Raka beserta warga lainnya tetap memilih menghabiskan malam menjaga pura.
Tim patroli malam yang terdiri dari 100-an personel polisi satu per satu balik kanan dengan tangan hampa, kembali menuju mobil patroli.
Iring-iringan empat bis polisi, sepuluh mobil patroli, dan lima motor offroad perlahan meninggalkan Pura Dalem Alas Pulaki.
Deru kendaraan menjadi satu-satunya sumber suara malam itu, mengoyak kesenyapan Dusun Umanyar yang sudah lama ditinggal ratusan warganya mengungsi.
Arak-arakan kendaraan tim patroli menggilas jalanan dusun yang tidak beraspal mulus, beriringan pergi meninggalkan lokasi. Berangsur-angsur, pura beserta rumah dan bangunan lainnya lenyap dari pandangan.
Cahaya kuning dan putih yang terpancar dari lampu kendaraan menjadi warna yang beradu dalam hitam malam.
Sunyi dan kelam malam kembali menelan dusun, menyisakan mereka yang rela bertahan demi Tuhan di tengah ketidakstabilan Gunung Agung.
news_share_descriptionsubscription_contact

