Pizaro Gozali
JAKARTA
Kaos, tas kain, dan gantungan leher (lanyard) bernuansa Turki disusun rapi di stan Islamic Tees Indonesia di halaman masjid al-Istiqomah, Bandung, pekan lalu. Kaos-kaos berwarna merah – warna bendera Turki – dihiasi wajah Recep Tayyip Erdogan dan petikan-petikan ucapan terkenal sang presiden dipasang paling muka.
Di depan stan, para pembeli berkerumun untuk melihat-lihat dan memilah-milah. Selesai membayar, kegiatan belum selesai. Kerumunan itu lantas ber-selfie dengan mengenakan kaos bergambar wajah Erdogan.
Adalah Fiqruddin Satyo, 25, yang punya ide mencetak wajah dan kutipan Erdogan di atas kaos. Fikri, sapaan akrabnya, sebelumnya sudah punya usaha percetakan merchandise bertema Islam. Namun pada 2015, dia terpana pada Erdogan.
Kala itu, Fikri menyaksikan Erdogan berbicara lantang kepada Shimon Peres, mantan Presiden Israel, di Forum Ekonomi Dunia soal pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Presiden Erdogan bahkan melakukan aksi walk out dari panel diskusi setelah menyampaikan pesannya kepada mantan Presiden Peres.
“Itu benar-benar membuat saya takjub,” kata Fikri. Kesukaan Fikri terhadap Erdogan bertambah-tambah dengan kepedulian Turki terhadap korban pelanggaran HAM di Suriah.
Berangkat dari kekaguman pribadi itu, Fikri kemudian mulai memroduksi kaos-kaos bertema Turki dan Erdogan. “Saya ingin rakyat Indonesia tahu bahwa ada sosok pemimpin muslim yang tegas dan berwibawa,” ujar Fikri yang menyebut Erdogan sebagai figur pemimpin idaman umat.
Ternyata Fikri bukan satu-satunya orang Indonesia yang kesengsem pada Presiden Erdogan. Setelah dilempar ke pasar, kaos bergambar Erdogan laris-manis diburu pembeli.
Rata-rata mereka membeli dalam jumlah besar. “Tak butuh waktu lama kami sudah masuk produksi yang kedua,” tambah dia.
Peminat kaos Erdogan, kata Fikri, datang dari berbagai kalangan. Tapi yang terbanyak adalah kaum muda dan pekerja kantoran, seiring dengan meningkatnya pamor Erdogan di segmen pasar ini.
Bahkan, kisah dia, ada yang datang jauh-jauh dari Nusa Tenggara Timur untuk membeli kaos ini. Warga Turki yang sedang melancong ke Indonesia pun sempat mampir ke stan miliknya dan membeli kaos bergambar wajah presidennya.
“Dia kaget nama Erdogan tenar di Indonesia. ‘Fantastic!’ kata dia,” Fikri terkekeh.
Selain di halaman masjid al-Istiqomah, Fikri juga biasa membuka stan di depan masjid Nurul Falah yang terletak di kawasan Gegerkalong, Bandung. Dari usahanya ini, Fikri berhasil membawa pulang keuntungan total Rp 10 juta per bulan.
“Bisa dua kali lipat kalau ada event besar,” ungkap Fikri yang saban event Islamic Book Fair digelar tak pernah alpa mendirikan stan Islamic Tees Indonesia.
Fikri pun menitipkan harapan besar kepada Presiden Erdogan untuk kemajuan Islam secara global. “Semoga Erdogan tetap peduli terhadap nasib umat Islam, menjadi pengayom bagi kaum tertindas.”
news_share_descriptionsubscription_contact

