Maria Elisa Hospita
19 Oktober 2018•Update: 20 Oktober 2018
Maria Elisa Hospita
JAKARTA
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mendesak penyelidikan kolaboratif yang kredibel dan transparan antara otoritas Turki dan Arab Saudi dalam kasus hilangnya wartawan Saudi terkemuka, Jamal Khashoggi.
“Kami menyerukan penyelidikan independen dan menyeluruh untuk memberikan jawaban atas apa yang terjadi dengan rekan jurnalis kami, Khashoggi. Kami juga menuntut pemerintah Arab Saudi untuk menjelaskan hilangnya Khashoggi dari konsulatnya,” kata Ketua AJI Indonesia Abdul Manan.
AJI juga menyerukan kekuatan global untuk memantau penyelidikan dan menekan Kerajaan Saudi untuk bekerja sama dalam penyelidikan.
"Siapa pun yang terlibat dalam kasus Khashoggi harus bertanggung jawab," tegas dia.
Insiden ini pun menambah daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis secara global. Data terbaru dari Wartawan Tanpa Batas (RSF) menunjukkan bahwa 57 wartawan, 10 jurnalis warga, dan sejumlah awak media tewas selama 2018.
Di Arab Saudi saja, ada sekitar 25 - 30 jurnalis profesional dan non-profesional yang kini berada di tahanan.
Arab Saudi menempati peringkat ke-169 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2018, yang mengindikasikan perlakuan buruk negara terhadap jurnalis mereka.
Manan mengatakan kebebasan pers dan ekspresi adalah hak dasar bagi semua orang, dan semua pemerintah harus menempatkan prinsip-prinsip itu sebagai prioritas utama mereka.
Sepanjang karirnya, Khashoggi dikenal sebagai pengkritik Kerajaan Saudi.
Dia kerap mengkritik kondisi kebebasan pers di dunia Arab.
Khashoggi menghilang sejak memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.