Iqbal Musyaffa
24 April 2018•Update: 25 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Tekanan yang dialami rupiah terkait nilai tukarnya terhadap dolar AS masih berlanjut dan bahkan kian besar.
Kepada Anadolu Agency, Selasa, Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan rupiah pada hari ini dibuka pada angka Rp13.900 per dolar dengan range pergerakan di kisaran 13.850-13.950.
“Rupiah masih dalam tekanan terkait melemahnya major currency terhadap USD,” ungkap Evan.
Penyebab menguatnya dolar, menurut Evan, salah satunya karena yield dari US Treasury (surat utang AS) yang tinggi dengan berada pada level 2,968 persen pada pagi ini, setelah sebelumnya nyaris menembus angka 3 persen.
“Sentimen mengenai suku bunga acuan serta pernyataan dari Korea Utara yang Sabtu lalu menyebutkan bahwa militer negara tersebut akan menunda rencana tes misil membuat para investor beralih memegang USD,” ujar Evan.
Salah satu sentimen pasar yang membuat penguatan dolar AS, menurut dia, adalah rencana Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengunjungi Beijing guna memperbaiki perselisihan dagang dengan Tiongkok.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo melalui keterangan tertulisnya dari Washington D.C, Selasa, mengatakan peningkatan yield surat utang AS memunculkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate lebih dari tiga kali sepanjang tahun ini.
“Kenaikan yield dan suku bunga di AS dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berlangsung selama tahun 2018 ini,” urai Agus.
Agus menguraikan pada hari Senin semua mata uang negara maju kembali melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang (JPY) terdepresiasi -0,25 persen, Swiss Franch (CHF) melemah -0,27 persen, dolar Singapura (SGD) tertekan -0,35 persen, dan euro (EUR) juga tertekan sebesar -0,31 persen.
“Dalam periode yang sama, mayoritas mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia, juga melemah,” imbuh dia.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, Agus menjelaskan Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar surat berharga negara (SBN) dalam jumlah cukup besar.
Dengan upaya tersebut, lanjut Agus, rupiah yang pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70 persen, mulai membaik pada hari Senin dengan hanya melemah sebesar -0,12 persen.