İqbal Musyaffa
05 Oktober 2018•Update: 06 Oktober 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia meyakini nilai tukar rupiah masih akan tertekan dalam jangka panjang karena ketidakpastian ekonomi global yang tak kunjung reda.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution seusai pertemuan dengan Menteri Keuangan di Jakarta, Jumat, mengatakan perang dagang sudah tidak dapat dihentikan lagi sehingga masing-masing negara sudah mulai mengembangkan strateginya.
“Ketidakstabilan global tidak bisa dihindari dan akan jalan terus. Sebelumnya diprediksi kuartal I tahun depan selesai, tetapi kayaknya tidak,” ungkap Menko Darmin.
Perang dagang menurut dia, saat ini justru semakin variatif dan berkembang tidak hanya pada pengenaan tarif dagang saja. Banyak negara yang mengurangi perdagangan dengan negara rivalnya dan kemudian membuat perjanjian dagang baru dengan negara lainnya.
“Jadi semakin runyem dan ruwet. Kita belum tahu apa yang akan terjadi setelah mid-term election Presiden Trump nanti,” imbuh dia.
Selain itu, Menko Darmin juga mengaku heran dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang sangat bagus sehingga menekan perekonomian dan nilai tukar banyak negara lainnya termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk langkah menengah, tidak lagi sekedar jangka pendek.
“Tunggu saja langkah-langkah itu kita akan jelaskan,” jelas Menko Darmin.
Meskipun nilai tukar masih tertekan, namun menurut dia, tidak terlalu berpengaruh pada inflasi.
“Jadi ini sebenarnya hanya gemuruhnya saja yang besar, tapi dampak riilnya tidak terlalu besar,” tambah dia.