Iqbal Musyaffa
05 November 2020•Update: 06 November 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tanda perbaikan karena bila dibandingkan kuarta kedua lalu tumbuh 5,05 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pada kuartal ketiga ini untuk pertama kalinya ekonomi Indonesia tumbuh positif secara kuartalan, setelah pada kuartal kedua lalu terkontraksi -4,19 persen dan pada kuartal pertama secara kuartalan terkontraksi -2,41 persen.
Ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga berdasarkan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp2.720,6 triliun sementara atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp3.894,7 triliun.
“Ini menjadi modal bagus untuk masuk ke kuartal keempat dan semoga kondisinya menjadi lebih baik,” jelas Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis.
Lebih lanjut, dia mengatakan menurut 17 lapangan usaha pembentuk PDB, seluruhnya mengalami pertumbuhan positif secara kuartalan.
Pertumbuhan tertinggi dialami oleh transportasi dan pergudangan yang tumbuh 24,28 persen dari kuartal kedua yang pada saat itu terkontraksi 29,18 persen dari kuartal pertama.
Kemudian akomodasi dan makan minum tumbuh 14,79 persen dari kuartal kedua yang pada saat itu terkontraksi 22,31 persen dari kuartal pertama.
Pertumbuhan tertinggi selanjutnya terjadi pada lapangan usaha jasa kesehatan sebesar 13,73 persen dari kuartal kedua setelah pada kuartal lalu terkontraksi 4,14 persen dari kuartal pertama.
Selanjutnya, pada kelompok pengeluaran juga mengalami pertumbuhan positif secara kuartalan, kecuali impor yang masih terkontraksi.
Kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 4,7 persen secara kuartalan di kuartal ketiga membaik dari kuartal kedua lalu yang terkontraksi 6,53 persen.
Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi pada kuartal ketiga juga tumbuh 8,45 persen dari kuartal kedua, kemudian ekspor tumbuh 12,14 persen dari kuartal kedua, serta konsumsi pemerintah tumbuh 16,93 persen dari kuartal kedua dan konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (PNPRT) tumbuh 0,56 persen.
“Hanya impor yang masih mengalami kontraksi sebesar minus 0,08 persen pada kuartal ketiga bila dibandingkan dengan kuartal kedua lalu,” tambah Suhariyanto.
Dia mengatakan mulai ada momentum perbaikan ekonomi pada kuartal ketiga ini yang harus terus dijaga agar semakin membaik di kuartal keempat nanti.
Bila dilihat secara kumulatif dari kuartal pertama hingga kuartal ketiga, ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi 2,03 persen.