Gizem Nisa Demir
13 Juli 2026•Update: 13 Juli 2026
Harga minyak dunia menguat sementara aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz melambat setelah aksi saling serang terbaru antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko keamanan di salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati 79 dolar AS per barel pada Minggu. Kenaikan tersebut membuat harga Brent sekitar 9 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
Sementara itu, perusahaan data maritim Kpler melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun tajam, dengan hanya 22 kapal yang melintas pada Kamis, dibandingkan lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik berlangsung.
Peningkatan ketegangan terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 140 target di Iran menyusul serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.
Iran kemudian menyatakan telah membalas dengan menyerang sejumlah posisi militer AS di kawasan.
Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, mengatakan serangan-serangan terbaru telah menghilangkan kepercayaan perusahaan pelayaran komersial, sebagaimana dikutip The New York Times.
"Kepercayaan itu terkikis dengan sangat cepat. Kini kami kembali ke titik awal dalam situasi ini," kata Bakr.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan yang dirilis Jumat menyebut pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk setelah gencatan senjata awal antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani bulan lalu sempat membantu meningkatkan pasokan global.
Namun, IEA mengingatkan bahwa pemulihan yang lebih luas masih bergantung pada meredanya kembali ketegangan.
Bakr mengatakan pasar energi kini semakin terbiasa dengan ketegangan yang berulang di kawasan tersebut.
"Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal yang baru ini," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pergerakan harga minyak sejauh ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan maupun besarnya risiko geopolitik.