Burhan Sansarlioglu, Emir Yildirim
13 Juli 2026•Update: 13 Juli 2026
Pasar keuangan global berada di bawah tekanan pada Senin setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta memburuknya situasi di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran investor. Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi sekaligus menekan pasar saham di berbagai kawasan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan gelombang ketiga serangan terhadap Iran pekan ini setelah Teheran melepaskan tembakan ke sebuah kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
CENTCOM kemudian menyebut pihaknya kembali melancarkan serangan tambahan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial di jalur pelayaran tersebut, sehingga semakin meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebagai balasan, Teheran meningkatkan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk, yang mendorong kenaikan harga minyak.
Pelaku pasar kini semakin memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September.
Dalam laporan kebijakan moneter kepada Kongres, The Fed menyatakan aktivitas ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh solid meski krisis di Timur Tengah masih berlangsung. Namun, inflasi meningkat akibat kenaikan tarif, melonjaknya harga energi, dan bertambahnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI).
Investor juga menantikan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan DPR dan Senat Amerika Serikat, serta rilis data inflasi terbaru. Di sisi lain, laporan kinerja keuangan perusahaan yang kuat diperkirakan dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Harga minyak dan obligasi menguat
Harga minyak mentah Brent melonjak 4,1 persen menjadi 79,10 dolar AS per barel setelah Teheran menyatakan telah menutup Selat Hormuz dan melakukan intervensi terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Kenaikan harga minyak memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar AS, sekaligus menekan harga emas.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik tiga basis poin menjadi 4,59 persen. Indeks Dolar AS menguat 0,1 persen menjadi 101,1, sementara harga emas turun 1,3 persen menjadi 4.055 dolar AS per ons.
Saham teknologi jadi sorotan
Sementara itu, SK Hynix memulai debutnya di bursa Nasdaq pada harga 170 dolar AS per saham, sekitar 13 persen di atas harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar 149 dolar AS per saham.
Saham Nvidia naik 4 persen, sedangkan Meta menguat 6 persen.
Pada 10 Juli, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,29 persen, S&P 500 menguat 0,42 persen, dan Nasdaq Composite bertambah 0,29 persen. Namun, indeks saham Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan Senin.
Pasar Eropa bergerak beragam
Pasar saham Eropa menguat pada 10 Juli setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah memulai pembicaraan teknis.
Saham maskapai EasyJet melonjak 14,3 persen setelah perusahaan ekuitas swasta asal Amerika Serikat, Apollo, mengajukan penawaran akuisisi senilai 7,6 miliar dolar AS.
Proyeksi terbaru menunjukkan Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Juli, namun berpeluang menaikkannya pada September.
Inflasi tahunan Jerman melambat menjadi 2,3 persen pada Juni seiring meredanya kenaikan harga energi.
Pada 10 Juli, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,24 persen, CAC 40 Prancis menguat 0,15 persen, FTSE MIB 30 Italia bertambah 0,44 persen, sementara DAX 40 Jerman turun 0,2 persen. Pasar saham Eropa dibuka bergerak beragam pada Senin.
Pasar Asia ikut melemah
Pasar saham Asia juga berada di bawah tekanan setelah meningkatnya risiko geopolitik dan aksi jual tajam pada saham-saham teknologi memicu pelemahan di berbagai bursa.
Saham SK Hynix yang diperdagangkan di Korea Selatan anjlok 13,4 persen, sedangkan Samsung Electronics turun 9,2 persen.
Menjelang penutupan perdagangan Senin, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 2,1 persen, Kospi Korea Selatan merosot 8 persen, Shanghai Composite China turun 1,5 persen, sementara Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,1 persen.