Mohammad Sio
13 Juli 2026•Update: 13 Juli 2026
Iran menegaskan tidak akan memenuhi kewajibannya dalam memorandum of understanding yang dimediasi Pakistan selama Amerika Serikat masih melanggar komitmen yang telah disepakati. Teheran menyebut pelaksanaan kesepakatan tersebut tetap berlandaskan prinsip "komitmen dibalas dengan komitmen" dan kini telah memasuki fase krisis.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan posisi Teheran sejak awal tidak berubah, yakni pelaksanaan memorandum bergantung pada kepatuhan kedua belah pihak terhadap kewajiban masing-masing.
"Sejak awal kami telah mengatakan bahwa prinsipnya adalah 'komitmen dibalas dengan komitmen.' Jika pihak lain (AS) mematuhi komitmennya, kami juga akan memenuhi komitmen kami," kata Baqaei dalam konferensi pers, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.
Iran tak pernah langgar kesepakatan
Baqaei menegaskan tidak ada pihak yang dapat menuduh Republik Islam Iran melanggar perjanjian apa pun.
"Dalam setiap kasus, kewajiban kami dan kewajiban pihak lain jelas serta dapat dibuktikan," ujarnya seraya menuduh Washington telah melanggar berbagai ketentuan dalam memorandum dengan berbagai alasan.
"Selama pihak lain terus melanggar komitmennya, Republik Islam Iran juga tidak akan memenuhi kewajiban yang telah disepakatinya," kata Baqaei.
Ia memperingatkan bahwa memorandum of understanding tersebut kini telah memasuki "fase krisis."
Diplomasi tetap terbuka
Menanggapi perkembangan diplomatik terbaru, Baqaei mengatakan diplomasi tetap menjadi instrumen yang tersedia meskipun ketegangan militer terus meningkat.
"Diplomasi adalah instrumen yang tidak pernah berhenti. Kami akan menggunakan segala cara untuk melindungi kepentingan nasional kami," ujarnya.
Menurut Baqaei, para mediator memiliki tugas untuk terus berupaya mencegah meningkatnya ketegangan.
Ia mengatakan Iran dalam beberapa hari terakhir telah menggelar pertemuan dengan pejabat Qatar dan Oman serta tetap menjalin komunikasi dengan Pakistan.
Iran bantah serang negara tetangga
Baqaei juga membantah bahwa Iran menyerang negara-negara tetangga.
"Kami tidak menyerang negara mana pun di kawasan dan kami juga tidak akan menyerangnya," katanya.
Menurut dia, operasi militer Iran hanya menyasar pangkalan, fasilitas, dan lokasi yang digunakan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk fasilitas logistik dan pendukung.
"Setiap wilayah atau bagian dari negara mana pun yang digunakan untuk menyerang Republik Islam Iran pada prinsipnya akan menjadi sasaran tindakan pertahanan Iran," ujarnya.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sasaran militer dan infrastruktur di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan, seraya menuduh Washington berulang kali melanggar kesepahaman yang dicapai pada 17 Juni. Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan menyatakan memorandum tersebut "telah berakhir."