İqbal Musyaffa
26 Juli 2019•Update: 26 Juli 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini relatif stabil di kisaran Rp13.990 per dolar AS meskipun ada pergerakan naik turun yang disebabkan oleh faktor teknikal, khususnya terkait kondisi di Eropa.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan secara fundamental perekonomian Indonesia terjaga dengan baik terlihat dari masuknya aliran modal asing mencapai Rp192,5 triliun dengan premi risiko investasi yang rendah.
“Prospek ekonomi Indonesia baik dengan kredibilitas kebijakan yang cukup kuat serta imbal hasil investasi yang menarik,” kata Perry di Jakarta, Jumat.
Stabilnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia menurut Perry akan membawa nilai tukar tetap stabil.
Dia juga memastikan BI akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai nilai fundamentalnya.
Perry menjelaskan faktor teknikal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah adalah terkait kondisi Brexit di Inggris terlebih dengan terpilihnya Boris Johnson sebagai perdana menteri yang baru menggantikan Theresa May.
“Johnson lebih pro Brexit sehingga tentu saja pertama (perlu diperhatikan) bagaimana negosiasinya dengan EU,” kata Perry.
Dia menambahkan negosiasi Inggris untuk keluar dari Uni eropa masih menemui jalan buntu saat pemerintahan Theresa May sebelumnya, sehingga negosiasi Brexit di bawah kepemimpinan Johnson masih akan meningkatkan ketidakpastian terkait kemungkinan untuk mencapai kesepakatan.
“Ketidakpastian terkait terjadinya Brexit atau no-deal Brexit masih lama dan tentu saja kondisi ekonomi di Inggris akan terkena dampak sehingga poundsterling melemah dan dolar menguat,” urai Perry.
Selain itu, dia menambahkan keputusan bank sentral Eropa (ECB) menahan suku bunganya dari perkiraan semula akan memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Eropa, justru meningkatkan imbal hasil investasi sehingga euro menguat terhadap dolar.
“Ini pergerakan naik turun mata uang yang lebih didorong faktor teknikal,” jelas Perry.