Muhammad Nazarudin Latief
26 Januari 2018•Update: 26 Januari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimulyono mengatakan proyek-proyek infrastruktur perlu mendapatkan asistensi dari badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi maupun gempa.
Menurut Menteri Basuki, Indonesia saat ini masuk kekurangan stok infrastruktur bukan hanya karena terlambat membangun, tapi bencana kadang mengembalikannya ke titik nol.
“Infrastruktur yang sudah kita bangun hilang lagi karena bencana,” ujar dia.
Pemerintah sudah menyusun peta gempa yang digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan bendungan, jalan, gedung dan infrastruktur lain.
“Mungkin cost pembangunan jadi lebih besar. Tapi ini aman,” lanjut dia.
Upgrade pemantau cuaca bandara
Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia bersiap menambah peralatan pemantauan cuaca untuk persiapan pertemuan tahunan World Bank-International Monetary Fund (IMF) dan penyelenggaraan Asian Games.
Prioritasnya adalah alat-alat pemantau cuaca dan angin di Bandara Ngurah Rai, Bali; Bandara Praya, Lombok; Bandara Djuanda, Surabaya dan Bandara Banyuwangi.
Menurut Dwikorita, alat yang perlu diperbaharui adalah automatic weathering observations (AWOS) yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin dan jarak pandang kemudian radar untuk mendeteksi hujan ekstrem.
“Akurasi ramalan cuaca penerbangan sudah 100 persen. Tapi karena itu para pemimpin dunia yang datang, kami tidak ingin ambil risiko,” ujar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Menurut Dwikorita, alat pemantau yang dimiliki bandara-bandara tersebut sudah berusia 10 tahun, bahkan lebih sehingga perlu diperbaharui.
Untuk penyelenggaraan Asian Games, menurut Dwikorita, pihaknya memerlukan hingga 60 unit radar cuaca, sedangkan saat ini baru 40 unit.
Menurut Dwikorita, tambahan radar itu untuk meningkatkan akurasi hingga 80 persen dari 70 persen untuk wilayah tingkat kabupaten.
“Kalau pertandingan kan akurasinya butuh per lapangan, bukan lagi kota,” ujar dia.