Muhammad Nazarudin Latief
26 April 2018•Update: 26 April 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah memprioritaskan pengembangan industri kimia sebagai dasar pengembangan industri manufaktur yang kompetitif.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pemerintah akan menyediakan berbagai fasilitas sehingga industri kimia dasar bisa membangun pabrik yang dekat dengan lokasi ekstraksi gas alam.
“Kita juga dorong penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan produksi kimia generasi berikut dalam produksi biofuel dan bioplastic,” ujar Menteri Airlangga dalam keterangan persnya, Kamis.
Menurut Menteri Airlangga, langkah ini diperlukan untuk terus menarik investasi dan meningkatkan kapasitas produksi, serta membangun kemampuan Indonesia untuk menjadi net eksportir dan produsen bahan kimia spesialis.
Industri kimia adalah salah satu dari lima sektor manufaktur yang disiapkan untuk implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia. Industri ini juga dapat digunakan secara luas oleh sektor lainnya, seperti industri elektronika, farmasi, dan otomotif.
“Ini agar Indonesia dapat mengurangi impor bahan kimia dasar,” ujar dia.
Menteri Airlangga secara khusus memberi apresiasi pada PT Kaltim Methanol Industri yang berulang tahun ke-27 hari ini. Perusahaan ini, menurut Menteri Airlangga, sudah berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama upaya membangun perusahaan di industri kimia yang sustainable atau berkelanjutan.
Produk methanol yang diproduksi KMI sudah diekspor ke berbagai negara seperti, Jepang, Korea, China dan Taiwan. Dengan harga gas yang kompetitif, daya saing industri kimia nasional diyakini akan semakin meningkat.
“Ini bagian dari hilirisasi industri,” ujar dia.
Presiden Komisaris PT KMI Evita Legowo mengatakan perusahaannya sudah berhasil memproduksi methanol grade AA sebesar 2.000 metrik ton per hari atau sekitar 660 ribu metrik ton per tahun. KMI juga sudah mengekspor sebanyak 55 persen produknya atau sebesar 360 ribu metrik ton ke beberapa negara.