Rania Abushamala
05 April 2026•Update: 05 April 2026
Iran menegaskan Selat Hormuz baru akan dibuka kembali jika pendapatan transit yang melewati jalur perairan itu digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang. Pernyataan tersebut disampaikan Kantor Kepresidenan Iran pada Minggu, di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Mehdi Tabatabai, Deputi Komunikasi dan Informasi Kantor Kepresidenan Iran, menyatakan melalui platform X bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkan oleh perang yang dipaksakan kepada Iran.
Tabatabai juga melancarkan kritik tajam terhadap Presiden AS Donald Trump, menyebutnya telah mengumbar hinaan dan omong kosong karena putus asa dan marah, serta menudingnya telah memulai perang habis-habisan di kawasan sambil tetap membual.
Kawasan ini telah berada dalam kesiagaan tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang hingga kini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Iran juga memberlakukan pembatasan pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi distribusi energi global.