Muhammed Yasin Güngör
05 April 2026•Update: 05 April 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan peluang besar tercapainya kesepakatan dengan Iran, bahkan mungkin secepat Senin ini.
Pada waktu bersamaan, ia juga mengancam akan mengeskalasi serangan secara dramatis jika Teheran tidak segera bergerak menuju meja perundingan.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut tengah mempertimbangkan untuk menghancurkan segalanya dan mengambil alih minyak Iran jika negara itu tidak cukup cepat mencapai kesepakatan.
Trump juga mengungkapkan bahwa Washington telah memberikan amnesti kepada para perunding Iran guna memastikan pembicaraan dapat terus berlanjut, meski Teheran belum memberikan respons.
Trump sebelumnya menyebutkan bahwa Washington menjalin kontak dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf.
Pernyataan tersebut disampaikan pada hari yang sama ketika Trump mengeluarkan peringatan keras di platform media sosialnya, Truth Social.
Ia menyebut Selasa sebagai hari pembangkit listrik dan jembatan di Iran, merujuk pada ancamannya untuk menyerang infrastruktur negara itu. Trump juga meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz, sambil mengancam dengan konsekuensi berat jika permintaan itu diabaikan.
Trump selain itu mengungkapkan bahwa Washington telah mengirimkan senjata kepada para pengunjuk rasa di Iran pada awal tahun ini, dengan menyebut senjata tersebut dikirim melalui perantara Kurdi, meski ia mengisyaratkan bahwa senjata-senjata itu tidak sampai ke tangan para demonstran.
Pengiriman senjata itu dilakukan saat aksi protes nasional berlangsung pada Januari lalu, ketika Trump melalui Truth Social sempat menyampaikan pesan kepada para demonstran bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Teheran menuduh Washington memicu kerusuhan di negaranya, tuduhan yang dibantah oleh pihak AS.
Kawasan ini telah berada dalam kesiagaan tinggi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS, sekaligus membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur perairan yang sebelum perang menjadi rute bagi sekitar 20 juta barel minyak setiap harinya.