İqbal Musyaffa
06 September 2018•Update: 06 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah mengakui kondisi perekonomian 2018 jauh lebih berat dari tahun 2016 dan 2017.
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, mengatakan defisit transaksi berjalan pada tahun 2016 sebesar USD17 miliar dan tahun 2017 sebesar 17,3 miliar.
“Namun, defisit tersebut bisa diimbangi dengan surplus neraca transaksi modal dan finansial,” ungkap Menteri Sri.
Surplus neraca transaksi finansial pada tahun 2016 mencapai USD29,3 miliar yang bersumber dari investasi langsung sebesar USD16,1 miliar, investasi portofolio sebesar USD19 miliar serta defisit pada investasi lainnya mencapai USD5,8 miliar.
Begitupun pada tahun 2017 yang mencatatkan surplus neraca transaksi finansial mencapai USD29,1 miliar.
Investasi langsung pada tahun itu sebesar USD19,4 miliar ditambah investasi portofolio sebesar USD20,6 miliar dan defisit pada investasi lainnya sebesar USD10,8 miliar.
Berdasarkan hal tersebut, secara keseluruhan neraca pembayaran pada 2016 surplus USD12,1 miliar dan tahun 2017 surplus USD11,6 miliar.
Menteri Sri menambahkan kondisi berbeda terjadi pada tahun 2018. Defisit transaksi berjalan pada triwulan I tahun ini mencapai USD5,7 miliar dan pada triwulan II sebesar USD8 miliar, sehingga selama satu semester jumlah defisit transaksi berjalan mencapai USD13,7 miliar.
Hingga akhir tahun nanti defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai USD25 miliar.
Besarnya defisit tersebut, menurut Menteri Sri, salah satunya berasal dari tingginya impor yang mencapai USD85,6 miliar, sementara ekspor USD88,2 miliar, sehingga terjadi penurunan surplus neraca perdagangan.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia, surplus neraca perdagangan barang tahun 2016 sebesar USD15,3 miliar dan tahun 2017 sebesar USD15,3 miliar, bila dibandingkan surplus perdagangan yang hanya USD2,6 miliar hingga semester I tahun ini.
“Kondisi ini diperparah dengan rendahnya surplus neraca transaksi modal dan finansial pada tahun ini sehingga tidak bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan,” aku Menteri Sri.
Surplus transaksi modal dan finansial pada tahun ini hingga semester I hanya USD6,5 miliar yang berasal dari investasi langsung sebesar USD5,4 miliar sementara investasi portofolio defisit USD1,3 miliar dengan banyaknya arus modal yang keluar.
“Semua fund manager menganggap emerging market berisiko dan mereka menghindari emerging market untuk investasi portofolio yang dipicu oleh krisis Argentina, Turki, dan yang terbaru Afrika Selatan,” jelas Menteri Sri.
Karena situasi arus modal yang masih gonjang-ganjing di luar negeri, Menteri Sri menegaskan bahwa pemerintah harus menangani defisit transaksi berjalan karena neraca transaski modal dan finansial tidak akan segera pulih dengan situasi global yang masih sangat dinamis.
Cara terbaru yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, lanjut Menteri Sri, adalah dengan melakukan pengendalian impor, khususnya impor barang konsumsi dengan memberikan peningkatan tarif PPh pasal 22 sebesar 7,5 persen hingga 10 persen untuk 1.147 komoditas impor konsumsi.