Muhammad Nazarudin Latief
31 Oktober 2018•Update: 01 November 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah harus bisa memberikan kepastian investasi pada para pemodal untuk bisa mengembalikan momentum pertumbuhan penanaman modal asing pada periode yang akan datang, ujar peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Rabu.
Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Ekonomi CSIS mengomentari realisasi investasi Indonesia pada kuartal III/2018 yang hanya mencapai Rp173,8 triliun, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu dengan capaian Rp176,6 triliun atau turun 1,6 persen.
Yose memahami bahwa penurunan investasi ini juga dipengaruhi faktor global, sehingga terjadi perebutan sengit antar negara.
“Tapi investor itu mencari tempat-tempat yang memberikan kepastian. Sayangnya Indonesia bukan negara yang bisa memberikan kepastian dari segi kebijakan. Gampang sekali berubah!” ujar Yose pada sebuah diskusi di Jakarta.
Penurunan realisasi investasi ini sebenarnya juga momentum untuk mengoreksi aliran dana luar negeri yang menurut Yose “tidak berkualitas, karena tidak masuk pada sektor industri dasar dan manufaktur.”
Selama ini, sektor yang sering dimasuki modal asing hanya pertambangan, listrik dan air, serta properti, ujar Yose.
Hal ini juga terkonfirmasi pada realisasi investasi kuartal III/2018 dengan lima besar sektor penanaman modal asing yaitu gudang, telekomunikasi sebesar Rp70 triliun, kemudian listrik gas dan air sebesar Rp68 triliun.
Kemudian pertambangan Rp58 triliun; perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp57 triliun; kemudian industri makanan Rp43 triliun.
Karena itu, penurunan investasi ini malah menjadi momentum untuk melihat secara lebih jernih investasi yang masuk termasuk kategori berkualitas atau tidak. Karena selama “tertutupi dengan perolehan investasi yang selalu naik, padahal bukan pada sektor-sektor yang berkualitas.”
Menurut Yose, di Tiongkok ada ratusan bahkan ribuan pengusaha yang sedang berusaha mencari tempat lain karena khawatir perang datang dengan Amerika akan memengaruhi kinerja perusahaannya.
Ini peluang yang harus diambil oleh Indonesia agar bisa memindahkan perusahaan tersebut ke wilayahnya. Indonesia bisa menawarkan diri sebagai basis produksi dengan jaminan kepastian.
“Ya kepastian hukum, ekonomi, infrastruktur dan pasar. Misalnya jangan tiba-tiba pemerintah ambil kebijakan restriktif dengan menaikkan tingkat kandungan dalam negeri yang tinggi. Padahal mereka butuh barang impor untuk produksi,” ujar dia.
Investasi menjadi bagian penting dari ekonomi Indonesia yang sedang tumbuh, dengan proporsi sekitar 30 persen. Komponen ini memacu pertumbuhan ekonomi yang tidak bergerak hanya dari faktor internal saja.
Selain menentukan realisasi pertumbuhan ekonomi, investasi juga berperan lewat penyerapan tenaga kerja yang akan membantu perekonomian dari sisi konsumsi. Selain itu, investasi juga menjadi sumber penting dalam memasok valas ke ekonomi domestik.
Menurut Yose, langkah pemerintah yang akan merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) sudah tepat karena memang saat inilah waktunya. Namun, penggodokannya yang sudah terlalu lama dan tidak transparan bisa menimbulkan spekulasi bahwa hasilnya hanya akan membawa kepentingan sekelompok bisnis saja.
“Jangan terlalu mengandalkan tax holiday. Karena pada dasarnya itu adalah insentif tapi juga mengeluarkan biaya dan syaratnya banyak,” ujar dia.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika dalam diskusi yang sama mengatakan meski investasi asing turun, namun realisasi sepanjang Januari-September 2018 masih positif, dengan kenaikan 4,3 persen. Hingga akhir September, realisasi investasi mencapai Rp535,4 triliun.
Menurut dia, penyebab koreksi pertumbuhan realisasi investasi dapat dipahami lewat dua hal yaitu sisi domestik maupun global. Di tingkat domestik perlambatan terjadi karena depresiasi rupiah yang menyebabkan biaya usaha semakin mahal.
Selain itu juga ada lonjakan harga minyak dunia yang menyebabkan biaya produksi perusahaan cenderung meningkat. Kondisi ini berpengaruh terhadap pemenuhan kapasitas produksi perusahaan.
Selain itu perlambatan ekonomi global, sehingga memengaruhi lalu lintas perdagangan dunia termasuk permintaan barang dari negara-negara berkembang.
Menurut Erani, secara umum potensi Indonesia untuk menyerap investasi hingga akhir tahun sangat baik. Ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen, yang dimaknai oleh pengusaha sebagai cerminan kekuatan ekonomi.
Inflasi pun bergerak di bawah 3 persen, sehingga daya beli terjaga. Dengan ukuran pasar yang sangat luas, Indonesia menjadi salah satu tujuan utama investasi global.
“Pemerintah akan memantau implementasi kemudahan berusaha, seperti program Online Single Submission. Selain itu, pemerintah akan memperkuat promosi investasi ke negara-negara baru,” ujar dia.