26 Juli 2017•Update: 28 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, khawatir dengan prospek ekonomi dan investasi Indonesia ada triwulan tiga atau empat tahun ini. Dua triwulan awal pada tahun ini, pertumbuhan ekonomi dan investasi didukung oleh peningkatan harga komoditas di pasar dunia, namun pada dua triwulan terakhir hal itu bisa saja tidak terjadi.
“Kita harus mengakui bahwa tahun lalu hingga kuartal I/2017 terjadi kenaikan harga komoditas yang cukup sigfikan. Word Bank, menerbitkan analisa, harga komoditas naik 27%,” katanya.
Bagi Indonesia dan negara-negara dengan eksposure ekonomi pada sektor komoditas, hal ini menguntungkan. Namun jika harga komoditas turun lagi, maka pada kuartal III dan IV, hal ini akan menjadi beban ekonomi dan investasi Indonesia.
Hal lain yang dikhawatirkan Lembong adalah keseimbangan investasi pada sektor pada karya dan pada modal. Jika tidak regulasi seperti peraturan menteri (permen) yang dikeluhkan presiden tidak segera diperbaiki, maka investasi bisa jadi akan naik, tapi para investor akan melakukan efisiensi.
Dari sisi pencapaian target investasi, kondisi ini menurut Lembong tidak bermasalah. Namun, jika tujuan besar investasi adalah menumbuhkan pendapatan masyarakat maka hal ini bisa saja tidak tercapai, karena tidak ada kontribusi signifikan pada kesejahteraan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurutnya tidak selu sama dengan kenaikan kesejahteraan masyarakat. Lembong, mewaspadai fenomena pertumbuhan sektor retail yang sangat pelan, meski pada hari raya menunjukan bahwa dunia usaha menggeser investasi pada program efsiensi.
“(Investor) mulai mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja. Saya takut itu membuat suasana konsumen hati-hati, tidak mau banyak pengeluaran, sehingga muncul pada angka retail yang sangat,” ujarnya.