İqbal Musyaffa
29 November 2018•Update: 29 November 2018
Erric Permana
JAKARTA
Pemerintah menyebut sumber energi baru dan terbarukan (EBT) sangat penting bagi Indonesia untuk membantu mengurangi defisit transaksi berjalan (CAD).
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan potensi EBT sangat besar hingga 443 ribu megawatt. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal.
“Kita punya geothermal 39 ribu megawatt tapi utilitasnya masih rendah,” ungkap dia dalam Pertamina Energy Forum di Jakarta, Kamis.
Defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia. menurut Menko Luhut, sangat berkaitan dengan besarnya impor energi fosil.
CAD tahu ini, menurut dia, mendekati angka USD24 miliar, jauh lebih besar dari defisit pada tahun lalu yang sebesar USD17 miliar.
“Kita perlu meminimalisasi impor minyak untuk kurangi CAD,” tegas Menko Luhut.
Pemerintah dalam berbagai kesempatan juga menyampaikan ketergantungannya pada kesuksesan program B20 untuk menekan impor minyak. Menko Luhut juga menyampaikan hal yang sama.
Program B20 dan penggunaan komponen lokal pada beberapa sektor menurut dia, dapat membuat CAD turun menjadi hanya satu digit pada tahun depan.
Meski begitu, dia mengakui bahwa program ini masih belum berjalan efektif.
Menko Luhut menekankan pentingnya pembangunan kilang-kilang baru khususnya kilang nafta untuk pengembangan industri petrokimia. Rencana pembangunannya sebenarnya sudah dimulai empat tahun lalu di Balongan, Indramayu, Jawa Barat namun hingga kini belum terbangun.
“Padahal sudah ada yang masuk (investasi) dari Taiwan (CPC Corporation). Tapi prosesnya bolak-balik kayak yoyo,” singgung Menko Luhut.
Menurut Menko Luhut, Presiden sangat memperhatikan pembangunan kilang tersebut, karena itu dia meminta agar proses pembangunan kilang baru tidak mundur lagi.
“Saya sudah dorong dari tiga tahun lalu tapi tidak jalan-jalan,” ungkap dia.
Sebagai informasi, saat ini Pertamina sedang mengembangkan enam unit kilang. Empat di antaranya adalah pengembangan kilang lama melalui Refinery Development Master Plan (RDMP) yakni di kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Sementara dua lainnya di Tuban dan Bontang merupakan kilang baru dalam proyek Grass Root Refinery.