Iqbal Musyaffa
06 Agustus 2020•Update: 11 Agustus 2020
JAKARTA
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan pertumbuhan ekonomi negatif 5,32 persen pada kuartal dua menandakan masyarakat mulai mengurangi pengeluaran bahkan untuk kebutuhan dasar seperti makan dan minum.
Direktur Eksekutif Institute Indef Tauhid Ahmad mengatakan hal ini juga terlihat dari konsumsi rumah tangga tumbuh negatif 5,51 persen dengan penurunan hampir di seluruh komponennya.
Khusus untuk konsumsi makan dan minum, tumbuh negatif 0,71 persen.
“Artinya masyarakat mengurangi pengeluaran untuk makan dan minum. Ini sangat dahsyat,” ujar Tauhid dalam diskusi virtual, Kamis.
Kondisi ini menurut dia menandakan ada ancaman ancaman dalam pemenuhan kebutuhan hidup paling mendasar di masyarakat sehingga perlu diwaspadai.
“Jangan sampai ada bahaya kelaparan dan ini menurut saya harus jadi fokus agar bantuan sosial diperbaiki sistem dan jumlah sasarannya,” tambah Tauhid.
Dia mengatakan konsumsi pemerintah termasuk dalam belanja bantuan sosial tidak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, padahal pada kuartal kedua sudah mulai ada penyaluran bantuan sosial.
“Bantuan sosial pertama diberikan di April tetapi belum bisa mendorong konsumsi masyarakat yang mulai kelaparan di kuartal kedua,” ujar dia.
Tauhid mengatakan pada kuartal kedua berdasarkan harga konstan ekonomi terjadi kerugian ekonomi di masyarakat sebesar Rp145,64 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini akan sulit diperbaiki apabila penanganan pandemi Covid-19 belum efektif dengan semakin meningkatnya angka penyebaran kasus sehingga berpotensi pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan.
“Pemerintah mengatakan kita masih lebih bersyukur dibanding Eropa dan negara lain yang kontraksi lebih dalam. Tetapi coba bandingkan dengan Vietnam dan China yang bisa tumbuh positif,” kata dia.