İqbal Musyaffa
26 April 2019•Update: 29 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih tetap stabil karena empat faktor pendorong utama.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan faktor pertama yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah adalah aliran dana asing yang terus masuk ke Indonesia melalui Surat Berharga Negara (SBN) sehingga menambah suplai dari valuta asing (valas) di pasar valas.
“Kedua, perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS semakin tinggi,” ujar dia seusai salat Jumat di Jakarta.
BI mengubah perkiraan kenaikan suku bunga the Fed dari perkiraan awal ada kenaikan satu hingga dua kali pada tahun ini hingga tahun depan, menjadi tidak akan ada kenaikan suku bunga the Fed pada tahun ini hingga tahun depan.
“Perbedaan suku bunga antara Indonesia dengan treasury bill cukup menarik bagi investor asing untuk menanamkan dananya di Indonesia, sehingga akan menjaga stabilitas nilai tukar,” tambah Perry.
Perry menambahkan faktor ketiga adalah adanya konfiden pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia, termasuk juga terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah, BI, OJK, dan otoritas terkait dengan adanya koordinasi yang cukup kuat untuk memastikan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan terjaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ekonomi akan tumbuh lebih baik dan inflasi akan cukup rendah. Insya Allah perbankan kreditnya juga cukup baik,” jelas Perry.
Kemudian faktor keempat adalah mekanisme pasar valas selama ini sudah berjalan semakin baik sebagaimana produk pasar valas sudah semakin bervariasi dengan adanya DNDF.
“Kemarin kita umumkan untuk melakukan penguatan lebih lanjut DNDF dengan penyempurnaan ketentuan underlying untuk DNDF sell sampai dengan USD5 juta tidak perlu underlying dan bisa di unwinding sebelum jatuh tempo,” jabar dia.
Saat ini nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.175/USD.