Muhammad Abdullah Azzam
05 Februari 2021•Update: 05 Februari 2021
Ahmed Asmar
SANAA, Yaman
Otoritas Yaman pada Kamis mengecam pernyataan kepala Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) di selatan Yaman yang ingin menormalkan hubungan dengan Israel.
Awal pekan ini, pemimpin STC Aidarus al-Zoubaidi mengatakan bahwa organisasi itu ingin menormalisasi hubungan dengan Israel jika negara Yaman Selatan yang terpisah terbentuk.
Dalam wawancara dengan Russia Today, al-Zoubaidi menggambarkan kesepakatan normalisasi baru-baru ini dengan Israel sebagai "tindakan teladan" untuk mencapai perdamaian regional.
UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2020.
"Semua orang Yaman menolak normalisasi dengan entitas Zionis [Israel]," kata Mukhtar al-Rahbi, penasihat menteri informasi Yaman.
Dia menambahkan bahwa al-Zoubaidi tidak mewakili seluruh Yaman.
Salah Batis, anggota Dewan Syura, majelis tinggi di negara itu, mengatakan bahwa pernyataan al-Zoubaidi memberi Yaman dua pilihan; mendukung negara yang kuat dan bersatu atau membaginya menjadi tiga yang kemudian akan bersaing untuk menjalin hubungan dengan Tel Aviv.
Sebagian besar kekuatan politik di Yaman selatan juga mengecam pernyataan al-Zoubaidi.
Abdul Kareem al-Saadi, yang memimpin Majelis Nasional Selatan, menyebutnya "bencana," dan meminta STC agar tidak terpengaruh oleh Abu Dhabi.
Ali al-Musabi, sekretaris jenderal partai Front Pembebasan, mengatakan masalah Yaman selatan tidak dapat diselesaikan dengan mengorbankan perjuangan Palestina.
Dalam beberapa minggu terakhir provinsi selatan di Yaman mengalami sejumlah aksi unjuk rasa menentang normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan Israel.
Dibentuk pada 2017, STC menguasai sebagian besar wilayah selatan Yaman, termasuk ibu kota sementara provinsi Aden dan Socotra. Yaman dilanda dalam konflik sipil sejak 2015.