Dmitri Chirciu
05 Mei 2022•Update: 09 Mei 2022
Kyiv, UKRAINA
Warga Turki Gagauz Kristen Ortodoks di Ukraina ikut berperang membela negaranya demi mempertahankan kebebasan dan integritas wilayahnya.
Ukraina adalah rumah bagi sekitar 40.000 warga Turki Gagauz.
Kepala Asosiasi Gagauz Ukraina, Vasiliy Kelioglo, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa populasi Gagauz negara itu sebagian besar terkonsentrasi di provinsi Kyiv, Odessa dan Zaporizhzhia.
Turki telah memberikan dukungan kepada komunitas Gagauz di negara itu dalam banyak hal, katanya.
“Misalnya, kami dapat mencetak buku dalam bahasa kami berkat bantuan Turki,” kata Kelioglo.
Dia menambahkan bahwa dia dapat membawa keluarganya keluar dari Kyiv ke lokasi yang lebih aman.
“Dan saya adalah bagian dari Pasukan Pertahanan Teritorial, karena saya ingin mengabdi pada negara dan angkatan bersenjata,” kata Kelioglo.
“Sementara negara saya berjuang untuk kelangsungan hidup, saya tidak bisa tinggal diam.”
Nikolai, yang tidak ingin menyebutkan nama belakangnya karena alasan keamanan, mengatakan telah bergabung dengan tentara Ukraina sejak 2014 dan mengambil bagian dalam beberapa pertempuran melawan pasukan Rusia sejak saat itu.
“Kami sekarang sedang bersiap untuk ditempatkan di bagian timur negara itu,” katanya.
“Negara kami berada di bawah serangan yang tidak adil dan saudara-saudara saya tewas setiap hari. Inilah mengapa saya bertugas di angkatan bersenjata.”
Dia menyatakan bahwa motivasi mereka lebih tinggi daripada tentara Rusia karena mereka membela tanah air mereka.
Gagauz Turk lainnya, Ivan Kapsamun, di sisi lain, melayani Ukraina dengan bekerja di harian Den (Day) dan menulis analisis politik.
“Meskipun awalnya saya mempertimbangkan untuk mendaftar di tentara, saya akhirnya memberikan kontribusi saya untuk negara saya dengan terus melakukan yang terbaik,” katanya.
“Saya melawan kampanye disinformasi yang sedang dilakukan terhadap negara saya,” kata Kapsamun.
Setidaknya 3.238 warga sipil telah tewas dan 3.397 lainnya terluka di Ukraina sejak perang dengan Rusia dimulai pada 24 Februari, menurut perkiraan PBB.
Jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 5,6 juta orang telah melarikan diri ke negara lain, dengan lebih dari 7,7 juta orang mengungsi, menurut data dari badan pengungsi PBB.