Rhany Chairunissa Rufinaldo
29 Agustus 2018•Update: 29 Agustus 2018
Ali Jawad
BAGHDAD
Puluhan warga Irak pada hari Selasa melakukan unjuk rasa terbuka di kota selatan Basra untuk memprotes apa yang mereka gambarkan sebagai kegagalan pemerintah untuk mengatasi polusi air dan lingkungan yang memburuk.
Pada unjuk rasa yang diadakan di alun-alun Al-Tiran Basra, pengunjuk rasa Rafed al-Kenani mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa aksi tersebut diselenggarakan setelah banyak warga menderita keracunan setelah meminum air keran yang tercemar.
Kementerian Sumber Daya Air Irak baru-baru ini melaporkan bahwa persentase garam terlarut telah mencapai 7.500 tds (total padatan terlarut) di perairan Shatt al-Arab, sumber utama air minum Basra.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), air minum tidak boleh melebihi 1.200 tds.
Kamis lalu, komisi hak asasi manusia yang dikelola pemerintah Irak mengakui bahwa ribuan warga Basra telah menderita keracunan setelah meminum air yang tercemar.
Dalam pernyataan pada Selasa, pemerintah mengumumkan bahwa Perdana Menteri Haider al-Abadi telah menginstruksikan pemerintah setempat di Basra untuk segera mengatasi krisis "dengan maksud untuk memastikan masyarakat memiliki persediaan air yang memadai".
Pengumuman tersebut dibuat setelah delegasi menteri mengunjungi provinsi kaya minyak itu untuk menyelidiki keluhan.
Al-Abadi juga memerintahkan pemerintah setempat untuk memperbaiki instalasi desalinasi air yang bobrok dan jaringan air yang sudah tua.
Perdana menteri lebih lanjut menginstruksikan kementerian pertahanan dan transportasi untuk mengalokasikan kendaraan untuk membantu menyalurkan air minum.
Sejak awal Juli, provinsi-provinsi di selatan dan tengah Irak dengan mayoritas penduduk Syiah, telah diguncang oleh serangkaian protes yang dari satu titik menyebar ke ibukota Baghdad.
Demonstran menuntut peningkatan kebutuhan masyarakat, termasuk air dan listrik, lebih banyak kesempatan kerja dan memberantas korupsi pemerintah.
Sementara itu, perundingan mengenai garis besar pemerintahan Irak selanjutnya masih berlangsung antara partai politik dan blok-blok terkemuka negara itu, menyusul pemilihan parlemen yang diperdebatkan yang diadakan pada Mei.