Dunia, Repertoar, Regional

Usai genosida 1995, Srebrenica berjuang demi bertahan hidup

Srebrenica terus memancarkan jejak rasa sakit dan kekejaman yang telah berakhir lebih dari dua dekade lalu

Mustafa Talha Öztürk   | 09.07.2021
Usai genosida 1995, Srebrenica berjuang demi bertahan hidup Kerabat korban tragedi Srebrenica menangis di Makam Monumen Potocari saat peringatan 24 tahun tragedi Srebrenica di Bosnia Herzegovina pada 10 Juli 2019. Lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia terbunuh setelah pasukan Serbia Bosnia menyerang "daerah aman" PBB di Srebrenica pada Juli 1995, meskipun pasukan Belanda ditugaskan di daerah itu sebagai penjaga perdamaian internasional. (Foto file - Anadolu Agency)

Belgrade

Vesna Besic, Lejla Biogradlija

BELGRADE, Serbia 

Kota kecil Srebrenica di Bosnia dan Herzegovina yang menjadi sasaran genosida pada tahun 1995, berjuang untuk keberadaannya, ketika para pemudanya bermigrasi dan orang tua perlahan-lahan mati.

Terletak di timur negara itu, Sebrenica terus membangkitkan jejak rasa sakit yang disebabkan oleh kekejaman penduduknya 26 tahun yang lalu.

Elvis Spiodic, yang berusia 11 tahun ketika genosida terjadi, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia yakin Srebrenica akan memperoleh kembali semangat lamanya, tetapi genosida telah mengambil segalanya dari rakyat.

"Saya kembali ke kampung halaman saya 15 tahun yang lalu. Saya yakin Srebrenica akan mendapatkan kembali semangat lamanya. Kafe, restoran, hotel dan toko roti beroperasi, tetapi situasinya tidak bagus selama lima tahun terakhir. Srebrenica sedang sekarat. Genosida merenggut segalanya dari warga yang tinggal di negeri ini," kata Spiodic.

Dia mengatakan para pemuda pergi karena mereka tidak yakin bisa membangun masa depan mereka di sana.

"Saya juga berpikir untuk meninggalkan Srebrenica akhir-akhir ini," tambah dia.

Senad Djozic, yang kembali ke Srebrenica pada 2009, mengatakan tidak ada kafe, restoran, atau bioskop yang menjadi pemandangan biasa di kota-kota lain."Kami terbiasa hidup tanpa kehidupan sosial. Kecintaan Anda pada negara membuat Anda tidak bisa melihat kekurangannya," kata Djozic, seraya menunjukkan bahwa Srebrenica secara bertahap menjadi kota pensiun.

Fadila Efendic, yang kehilangan suami dan putranya dalam genosida, mengatakan dia selalu kesulitan menghadapi kenyataan.

"Wargalah yang membuat kota menjadi kota, bukan bangunannya. Begitu banyak orang terbunuh di sini. Mereka yang tinggal di sini hari ini hidup dalam ketakutan 'apakah sesuatu akan terjadi pada kita?' Saya penuh harapan ketika pertama kali datang ke sini," kata Efendic.

Lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia tewas setelah pasukan Serbia Bosnia menyerang daerah aman PBB di Srebrenica pada Juli 1995, meskipun ada pasukan Belanda yang bertugas sebagai penjaga perdamaian internasional.

Srebrenica dikepung oleh pasukan Serbia yang berusaha merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk sebuah negara.

Dewan Keamanan PBB menyatakan Srebrenica sebagai "daerah aman" pada musim semi 1993.

Namun, pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic menyerbu zona PBB.

Mladic kemudian dijatuhi hukuman seumur hidup atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.

Pasukan Belanda gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu, menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki pada 11 Juli.

Sekitar 15.000 penduduk Srebrenica melarikan diri ke pegunungan sekitarnya, tetapi pasukan Serbia memburu dan membunuh 6.000 orang di hutan.

Jenazah korban telah ditemukan di 570 tempat berbeda di negara itu.


* Talha Ozturk berkontribusi pada berita ini

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın